<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	>

<channel>
	<title>Magen Emuna</title>
	<atom:link href="http://www.oyr79.com/magen/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.oyr79.com/magen</link>
	<description>Memperkokoh Keimanan</description>
	<pubDate>Thu, 25 Sep 2008 02:43:23 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.6.3</generator>
	<language>en</language>
			<item>
		<title>1Tawarikh 21:1 vs 2Samuel 24:1</title>
		<link>http://www.oyr79.com/magen/1tawarikh-211-vs-2samuel-241/</link>
		<comments>http://www.oyr79.com/magen/1tawarikh-211-vs-2samuel-241/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 25 Sep 2008 02:40:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rabbi</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Alkitab]]></category>

		<category><![CDATA[1Tawarikh 21:1]]></category>

		<category><![CDATA[2Samuel 24:1]]></category>

		<category><![CDATA[Daud]]></category>

		<category><![CDATA[iblis]]></category>

		<category><![CDATA[Israel]]></category>

		<category><![CDATA[Samuel]]></category>

		<category><![CDATA[Tawarikh]]></category>

		<category><![CDATA[TUHAN]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.oyr79.com/magen/?p=26</guid>
		<description><![CDATA[Mengapa dalam 1Tawarikh 21:1 dikatakan &#8220;iblis bangkit melawan orang Israel dan ia membujuk Daud,&#8221; sementara dalam 2Samuel 24:1 dikatakan &#8220;Bangkitlah pula murka TUHAN terhadap orang Israel ; Ia menghasut Daud.&#8221;
Manakah yang benar?
Memang banyak orang telah mencoba untuk mengungkapkan argumen mengapa kedua ayat itu bisa nampak sangat berbeda. Tapi, alasan yang paling dominan yang sering saya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Mengapa dalam 1Tawarikh 21:1 dikatakan &#8220;iblis bangkit melawan orang Israel dan ia membujuk Daud,&#8221; sementara dalam 2Samuel 24:1 dikatakan &#8220;Bangkitlah pula murka TUHAN terhadap orang Israel ; Ia menghasut Daud.&#8221;</p>
<p>Manakah yang benar?<span id="more-26"></span></p>
<p>Memang banyak orang telah mencoba untuk mengungkapkan argumen mengapa kedua ayat itu bisa nampak sangat berbeda. Tapi, alasan yang paling dominan yang sering saya dengar adalah alasan perbedaan waktu dan penulis kedua kitab.</p>
<p>Beda waktu dan penulis jelas dapat berdampak pada perbedaan cara pandang terhadap suatu peristiwa, misalnya seorang yang rumahnya habis dirampok, pada saat itu akan mengatakan &#8220;iblis telah mengirim perampok ke rumahku.&#8221;</p>
<p>Tetapi, ketika ada peristiwa lain yang menyusul peristiwa itu dan ternyata justru menguntungkan bagi si korban perampokan, maka ia bersaksi &#8220;TUHAN telah menguji saya melalui peristiwa perampokan.&#8221;</p>
<p>Cukup logis, tapi benarkah demikian?</p>
<p>Dalam naskah Ibraninya, 1Tawarikh 21:1 berbunyi &#8220;ויעמד שׂטן על־ישׂראל&#8221; (<em>wayya&#8217;mod satan &#8216;al-Yisra&#8217;el</em>)</p>
<p>Kata &#8220;שׂטן&#8221; (SATAN) di situ oleh sebagian besar penerjemah Alkitab diterjemahkan &#8220;setan&#8221; atau &#8220;iblis.&#8221; Padahal, dalam Bahasa Ibrani, kata SATAN tidak selalu berarti &#8220;setan&#8221; atau &#8220;iblis.&#8221;</p>
<p>Bandingkan Bilangan 22:32 &#8220;הנה אנכי יצאתי לשׂטן&#8221; (<em>hinne Anokhi yatsathi le-satan</em>)</p>
<p>Lembaga Alkitab Indonesia (LAI) menerjemahkan ayat ini &#8220;lihat, Aku keluar sebagai lawanmu.&#8221; Kata &#8220;SATAN&#8221; pada ayat ini diterjemahkan &#8220;lawan&#8221; sebab yang berbicara saat itu adalah malaikat</p>
<p>&#8220;Berfirmanlah Malaikat TUHAN kepadanya: &#8216;Apakah sebabnya engkau memukul keledaimu sampai tiga kali? <em>Lihat, Aku keluar sebagai lawanmu</em>, sebab jalan ini pada pemandangan-Ku menuju kepada kebinasaan.&#8217;&#8221; (Bil. 22:32)</p>
<p>Jadi jelas di sini bahwa kata &#8220;SATAN&#8221; tidak selalu berarti &#8220;iblis&#8221; atau &#8220;setan.&#8221; Biasanya dalam Perjanjian Lama, jika kata ini berarti &#8220;setan&#8221; atau &#8220;iblis&#8221; maka diberi kata sandang &#8220;HA&#8221; menjadi &#8220;HASSATAN&#8221; [band. Ayub 1:6 "ויבוא גם־השׂטן בתוכם" (<em>wayyivo gam-Hassatan bethokham</em>) (dan di antara mereka datanglah juga Satan/Iblis)].</p>
<p>Dengan demikian, 1Tawarikh 21:1 seharusnya diterjemahkan &#8220;Musuh/lawan bangkit melawan orang Israel dan mendorong Daud untuk menghitung orang Israel&#8221;</p>
<p>Kata &#8220;סוּת&#8221; (SUTH) oleh LAI diterjemahkan &#8220;membujuk.&#8221; Kata ini memiliki banyak arti, bisa &#8220;membujuk, memprovokasi, memanas-manasi, memaksa, mendorong, dsb.&#8221; Dalam ayat ini saya pikir lebih tepat diterjemahkan &#8220;memaksa&#8221; atau &#8220;mendorong.&#8221; Sehingga dalam 2Samuel 24:1 juga dapat diartikan &#8220;Murka TUHAN terhadap orang Israel bangkit dan mendorong Daud untuk melawan mereka&#8221;</p>
<p>Bagaimana menjelaskannya?</p>
<p>Ketika TUHAN mendorong Daud untuk melakukan sensus, TUHAN menggunakan musuh atau lawan (SATAN) Daud untuk melawan orang Israel, sehingga memaksa Daud untuk melakukan sensus.</p>
<p>Hal ini mirip dengan 1Raja-raja 11:14 &#8220;Kemudian TUHAN membangkitkan seorang lawan Salomo, yakni Hadad, orang Edom&#8221;</p>
<p>Naskah Ibraninya &#8220;ויקם יהוה שׂטן לשׁלמה את הדד האדמי&#8221; (<em>wayyaqem YHWH satan li-Shelomo eth Hadad ha-Adomi</em>)</p>
<p>TUHAN biasanya menggunakan musuh-musuh atau lawan-lawan Israel untuk menjalankan rencana-Nya atas bangsa itu. Bandingkan juga ketika TUHAN menguji iman Ayub, IA memakai Iblis untuk menjalankan rencana-NYA. Ini adalah pemahaman teologi yang lazim bagi masyarakat Ibrani.</p>
<p>Yesus sendiri, ketika dicobai oleh Iblis, dituntun pertama kali oleh Roh Kudus (Matius 4:1 band. Lukas 4:1).</p>
<p><em>Immanu-El</em></p>
<p>Yosi Rorimpandei</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.oyr79.com/magen/1tawarikh-211-vs-2samuel-241/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Yesus dalam al Qur&#8217;an</title>
		<link>http://www.oyr79.com/magen/yesus-dalam-al-quran/</link>
		<comments>http://www.oyr79.com/magen/yesus-dalam-al-quran/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 04 Apr 2008 12:25:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rabbi</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Islamika]]></category>

		<category><![CDATA[Kristologi]]></category>

		<category><![CDATA[al Qur'an]]></category>

		<category><![CDATA[Islam]]></category>

		<category><![CDATA[Yesus]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.oyr79.com/magen/?p=25</guid>
		<description><![CDATA[Yesus telah menjadi sosok sentral dalam pemahaman iman Kristen. Para pemimpin   gereja mula-mula dan para teolog Kristen perdana memfokuskan teologi mereka   kepada Yesus, yang dianggap sebagai pionner Gereja dan sekaligus Kepala   Gereja. Ada begitu banyak interpretasi atas tokoh Yesus dan ada begitu banyak   respon atas kesiapaan Yesus [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Yesus telah menjadi sosok sentral dalam pemahaman iman Kristen. Para pemimpin   gereja mula-mula dan para teolog Kristen perdana memfokuskan teologi mereka   kepada Yesus, yang dianggap sebagai <em>pionner</em> Gereja dan sekaligus Kepala   Gereja. Ada begitu banyak interpretasi atas tokoh Yesus dan ada begitu banyak   respon atas kesiapaan Yesus pada masa gereja awal dan pada masa perkembangannya   kemudian.<span id="more-25"></span> Ada yang melihatnya secara pribadi sebagai seorang &ldquo;Kawan Sejati&rdquo;, ada   yang melihatnya sebagai seorang manusia biasa, &ldquo;Orang Nazaret&rdquo;, ada yang   melihatnya dalam nuansa teo-politikal sebagai seorang &ldquo;Pembebas&rdquo;, dan bahkan ada   yang lebih jauh melihatnya secara ontologis sebagai &ldquo;Sabda Allah&rdquo; yang   berinkarnasi dalam waktu.</p>
<p>Banyaknya interpretasi dan respon atas kesiapaan Yesus pada masa-masa awal   dan masa perkembangan gereja mengakibatkan munculnya begitu banyak perdebatan   seputar Yesus di kalangan para teolog kala itu atau yang kemudian kita sebut   &ldquo;Bapa-bapa Gereja&rdquo;. Perdebatan pada waktu itu tampaknya dilihat sebagai   perdebatan yang serius oleh kaisar, sehingga untuk mencegah perpecahan dalam   kerajaan Romawi, digelarlah Konsili Gereja yang khusus berbicara soal   Kristologi.</p>
<p>Interpretasi dan respon atas kesiapaan Yesus juga muncul di kalangan Muslim.   Muhammad, yang menjadi tokoh sentral berdirinya Islam, mengenal Yesus dari para   rahib gereja abad ke-7. Bagi Muhammad, Yesus merupakan sosok yang tidak bisa   diabaikan dalam upayanya menyebarkan Islam. Mau tidak mau, ia pun harus   berbicara tentang Yesus dalam interpretasinya terhadap apa yang ia ketahui dari   para rahib gereja. Interpretasinya itu kemudian oleh gereja dinilai sebagai   interpretasi yang keliru, sebab Muhammad lebih melihat sisi humanisnya Yesus dan   tidak mengakui sisi <em>ilahiyah</em>-nya.</p>
<p>Terlepas dari semuanya itu, ada baiknya kita mencermati apa dan bagaimana   Muhammad melihat Yesus. Kita tidak punya bahan literatur karya Muhammad yang   dapat dijadikan kajian, selain Al Qur&rsquo;an, Sunnah dan Hadits. Dalam kesempatan   ini, ada baiknya kita melihat dulu apa kata Al Qur&rsquo;an tentang Yesus. Namun   sebelumnya perlu dipahami, bahwa interpretasi terhadap Al Qur&rsquo;an sangatlah kaya   dan beragam. Setiap orang yang berupaya membaca Al Qur&rsquo;an akan memiliki   interpretasi tersendiri atas apa yang ia baca itu. Oleh karena itu, apa yang   saya sajikan ini, janganlah kemudian dilegitimasi sebagai satu-satunya   interpretasi yang benar terhadap Al Qur&rsquo;an.</p>
<p><strong>I. Nama Yesus dalam Al   Qur&rsquo;an</strong></p>
<p>Ada dua nama yang digunakan bagi Yesus dalam Al Qur&rsquo;an, yaitu <em>&#8216;Is&acirc;</em> dan <em>Ibnu Maryam</em> [Qs. Ali &lsquo;Imran/3:45]. &#8216;Isa menjadi semacam <em>personal   name</em> bagi Yesus dalam masyarakat Arab. Persoalannya adalah, mengapa ia   disebut &#8216;Isa? Jika kita membaca Alkitab berbahasa Arab, maka nama yang digunakan   bukanlah &#8216;Isa, melainkan <em>Yasu&rsquo;a</em>.</p>
<p>Untuk memahami hal ini, maka penting sekali jika pertama-tama kita mengetahui   latar belakang pengenalan Muhammad akan Yesus. Muhammad adalah seorang warga   Makkah yang awalnya berprofesi sebagai pedagang, mengikuti pamannya, yang   membesarkannya. Perdagangan Muhammad termasuk sukses. Ia berhasil mencapai   negeri Syam (Syria) untuk menjual barang dagangannya. Pada masa itu, Syam   merupakan kota sentra-niaga atau bisa dikatakan sebagai kota metropolitan di   negeri Arab.</p>
<p>Mayoritas penduduk Syam pada masa itu beragama Kristen. Kekristenan di Syam   didominasi oleh kelompok Yakobit, di samping Melkit dan beberapa kelompok   Kristen lainnya. Selain menggunakan bahasa Arab, penduduk Syam menggunakan   bahasa Aramik sebagai <em>lingua franca</em>-nya. Gereja-gereja di Syam juga   menggunakan bahasa Aramik sebagai salah satu bahasa liturginya, termasuk dalam   menyampaikan pengajarannya.</p>
<p>Penduduk Syam pada waktu itu, menyebut Yesus sebagai <em>Yasu</em> atau <em>&#8216;Ish&#333;</em>. Jika &#8216;Is&#333; dirubah ke dalam bahasa Arab, maka akan menjadi &#8216;Is&acirc;,   sebab biasanya huruf &ldquo;o&rdquo; panjang dalam bahasa Aramik dan Ibrani akan berubah   menjadi huruf &ldquo;a&rdquo; dalam bahasa Arab. Misalnya kata <em>shal&#333;m</em> dalam bahasa   Ibrani sama pengertiannya dengan kata <em>sal&acirc;m</em> dalam bahasa Arab. Jadi,   penggunaan nama &#8216;Isa oleh Muhammad dan dalam Al Qur&rsquo;an dapat diterima dan   dibenarkan. Kita tidak usah memperpanjang perdebatan tentang penggunaan nama   ini.</p>
<p>Ibnu Maryam bisa dikatakan sebagai marga bagi Yesus. Secara harafiah, Ibnu   Maryam dapat diartikan &ldquo;Putra Maryam&rdquo;<A title="" href="#_ftn1" name="_ftnref1">[1]</A> Bagi beberapa kalangan Kristen, penyebutan Ibnu Maryam   bagi Yesus merupakan salah satu bentuk pengakuan Muhammad atas virginitas Maria,   sebab dalam tradisi Arab, biasanya nama yang disertakan kepada nama seorang anak   adalah nama bapaknya, bukan ibunya (Mestinya Yesus disebut Ibnu Yusuf). Selain   itu, beberapa ahli mengatakan bahwa penyebutan ini juga lebih menunjukkan pada   pengakuan Muhammad atas keistimewaan Maria sebagai seorang perempuan suci.</p>
<p>Al Qur&rsquo;an sendiri sangat menghormati sosok Maria (Maryam). Dengan jelas Al   Qur&rsquo;an menceritakan bagaimana Maria dilindungi oleh Tuhan dari hinaan   orang-orang Yahudi karena dituduh melakukan hubungan seks di luar nikah.   Peristiwa kelahiran Yesus sendiri diset sedemikian rupa untuk menghormati Maria,   ibu Yesus. Kemungkinan besar, Muhammad mendapat pengaruh dari tradisi gereja   ortodoks yang begitu mengagungkan Maria.<A title="" href="#_ftn2" name="_ftnref2">[2]</A></p>
<p>Bagi kebanyakan orang Kristen, Yesus lebih dikenal dengan sebutan &#8216;Isa Al   Masih, namun, dalam Al Qur&rsquo;an, sebutan yang justru lebih dikenal adalah &#8216;Isa   Ibnu Maryam. Masing-masing sebutan ini memiliki makna tersendiri jika   diinterpretasikan lebih jauh.</p>
<p><strong>II. Gelar-gelar Yesus dalam Al Qur&rsquo;an</strong></p>
<p>Ada empat gelar utama yang diberikan kepada Yesus di dalam Al Qur&rsquo;an, yaitu: <em>&#8216;Abdullahu </em>(hamba Allah) [Qs. An Nisa/4:172, Maryam/19:30], <em>Nab&#299;un</em> [Qs. Maryam/19:30] <em>Ras&#363;lullahu</em> (utusan Allah)<em> </em>[Qs. Ali   &lsquo;Imran/3:49, An Nisa/4:157,171, Al Ma&rsquo;idah/5:75, Ash Shaff/61:6], dan <em>Al   Mas&#299;hu</em> [Qs. Ali &lsquo;Imran/3:45]. Keempat gelar ini, jika dikaji secara teologi   Islam, memiliki makna dan nilai teologis yang berbeda. Misalnya gelar <em>&lsquo;Abdullahu</em> yang secara harafiah dapat berarti &ldquo;abdi Allah&rdquo; atau &ldquo;hamba   Allah&rdquo;. Gelar ini dalam wacana teologi Islam merupakan gelar yang umum dan bisa   disandang oleh siapa saja yang mengabdikan dirinya untuk pekerjaan agama.   Seorang pengajar di sebuah sekolah Islam dapat disebut sebagai abdi atau hamba   Allah. Diberikannya gelar ini kepada Yesus menunjukkan suatu bentuk pengabdian   Yesus atas pekerjaan atau amanat Allah. Ia adalah seorang hamba Allah, yang   bekerja atas petunjuk Allah.</p>
<p>Gelar <em>Nabi</em> merupakan gelar yang lebih spesifik dibanding gelar <em>&lsquo;Abdullahu</em>. Tidak semua <em>&lsquo;Abdullahu</em> dapat disebut sebagai <em>Nabiun</em>, tapi semua <em>Nabiun</em> pastilah seorang <em>&lsquo;Abdullahu</em>.   Dalam kepercayaan Islam, diakui ada 25.000 <em>Nabiun</em> yang diutus oleh Allah,   mulai dari Adam hingga Muhammad. Yang penting untuk dicatat di sini bahwa ada   definisi yang berbeda akan pemahaman <em>Nabiun</em> dalam Islam dengan <em>Nabiun</em> (Nabi) dalam Kristen, meskipun keduanya menggunakan kata yang   sama. <em>Nabiun</em> dalam pemahaman Kristen mengikuti pemikiran Yahudi, di mana   seorang <em>Nabiun</em> haruslah berasal dari keturunan Yakub (Israel). Ia harus   menyampaikan pesan Tuhan kepada umat dan merupakan seorang yang menyampaikan   nubuat Ilahi. Dalam pemahaman Islam, seorang <em>Nabiun</em> adalah seorang utusan   Tuhan yang menjalankan amanat Tuhan. Ia dibekali dengan pengajaran-pengajaran   dari Tuhan yang harus ia sampaikan.</p>
<p>Di antara gelar-gelar tersebut, <em>Ras&#363;lullahu</em> adalah gelar yang paling   spesifik. Tidak semua <em>&lsquo;Abdullahu</em> dan <em>Nabiun</em> adalah <em>Rasul&#363;llahu</em>, tapi semua <em>Rasul&#363;llahu</em> adalah <em>&lsquo;Abdullahu</em> dan   juga <em>Nabiun</em>. Menurut definisi beberapa <em>mufassir</em> Islam, <em>Rasul&#363;llahu</em> memiliki pengajaran yang lebih universal. Karena itu, ia   diberi sebuah kitab pegangan oleh Allah yang harus ia sampaikan kepada umat   Allah. Begitu spesifiknya gelar ini, sehingga hanya ada 5 orang <em>Rasul&#363;llahu</em> yang diakui dalam Islam, yaitu: Nuh, Ibrahim, Musa, &lsquo;Isa   (Yesus), dan Muhammad.</p>
<p>Meskipun menggunakan istilah yang sama dengan Kristen, namun <em>Rasul</em> dalam pemahaman Islam jelas berbeda dengan <em>Rasul</em> dalam pemahaman Kristen. <em>Rasul</em> dalam pandangan Kristen lebih menunjuk kepada ke-12 murid Yesus   ditambah Matias (pengganti Yudas Iskhariot) dan Paulus. <em>Rasul</em> dalam   pandangan Islam lebih menunjuk kepada mereka yang menerima wahyu dari Tuhan dan   mendapat amanat secara langsung dari Tuhan.</p>
<p>Gelar <em>Al Mas&#299;hu</em> adalah gelar yang kontroversial. Gelar ini dalam Al   Qur&rsquo;an hanya diberikan kepada Yesus, karena itu ada beberapa kalangan Islam yang   menganggap bahwa <em>Al Mas&#299;hu</em> adalah nama diri bagi Yesus. Kata <em>Al   Mas&#299;hu</em> berasal dari kata <em>Mas&#299;hun</em>, yang dalam bahasa Arab memiliki dua   pengertian, yaitu: (1) orang yang diurapi dengan minyak atau orang yang   diminyaki, dan (2) orang yang bepergian. Maulana M. Ali, seorang penerjemah dan   penafsir Al Qur&rsquo;an dalam terjemahan yang dilengkapi tafsir Al Qur&rsquo;an ke dalam   bahasa Inggris mengatakan bahwa Yesus diberi gelar <em>Al Mas&#299;hu</em> karena ia   adalah seorang yang gemar melakukan perjalanan jauh. Konon, ia dikatakan pernah   berjalan hingga ke sepuluh suku Israel yang hilang dan menetap di negeri Timur,   yaitu Afghanistan dan Kasymir.<A title="" href="#_ftn3" name="_ftnref3">[3]</A></p>
<p>Beberapa kalangan Islam liberal justru melihat kesamaan akar katanya dengan   kata <em>&ldquo;Meshikha&rdquo;</em> dalam bahasa Aram (Syria). Dalam bahasa Ibrani, kata ini   berasal dari kata <em>Mashiakh</em> yang artinya &ldquo;Mesias&rdquo;. Dalam bahasa Yunani,   kata ini diterjemahkan dengan kata <em><SPAN lang="EL">&Chi;&rho;&iota;&sigma;&tau;&omicron;&sigmaf;</SPAN></em><SPAN lang="EL"> </SPAN><em>(Khristos)</em> atau dalam bahasa Indonesia diterjemahkan   &ldquo;Kristus&rdquo;, yang artinya sama dengan &ldquo;Mesias&rdquo; yaitu &ldquo;Yang Diurapi&rdquo;. Gagasan ini   paling sulit diterima oleh umat Islam pada umumnya, apalagi dalam teologi   Kristen, Mesias atau Kristus memiliki makna yang luar biasa, khususnya dalam   pandangan Mesianik penulis Injil Yohanes. Mesias bukan saja seorang nabi yang   dijanjikan Tuhan sejak zaman para nabi sebelumnya, namun ia adalah juga Sang   Pembebas (bukan dalam makna politik, namun teo-politikal) manusia dan bahkan   Juru Selamat <em>(Salvator; Savior)</em>.</p>
<p><strong>III. Keistimewaan Lainnya</strong></p>
<p><strong><em>1. Kalimatullah</em></strong></p>
<p>Yesus memiliki banyak keistimewaan dalam Al   Qur&rsquo;an. Dalam surat Ali &lsquo;Imran/3:45 [terjemahan Depag RI tahun 1998], berbunyi,   &ldquo;<em>(Ingatlah), ketika Malaikat berkata: &lsquo;Hai Maryam, sesungguhnya Allah   menggembirakan kamu (dengan kelahiran seorang putera yang diciptakan) dengan   kalimat (yang datang) daripada-Nya, namanya Al Mas&#299;h &lsquo;Isa putera Maryam, seorang   terkemuka di dunia dan di akhirat dan termasuk orang-orang yang didekatkan   (kepada Allah)</em>.&rdquo; Makna yang dapat kita tangkap dari terjemahan ini adalah   bahwa Yesus adalah seorang putera Maria yang diciptakan dengan &lsquo;kalimat&rsquo; dari   Tuhan.</p>
<p>Secara harafiah mestinya ayat ini berarti, &ldquo;Ketika Malaikat berkata: &lsquo;Hai,   Maryam, sesungguhnya Allah menggembirakan kamu dengan (yaitu) kalimat (Firman)   dari Dia yang namanya Al Mas&#299;h putra Maryam, seorang yang terkemuka di dunia dan   di akhirat dan termasuk <em>al muqarrab&#299;n</em><A title="" href="#_ftn4" name="_ftnref4">[4]</A>&rdquo;</p>
<p>Memang tidak semua <em>mufassir</em> Islam menafsirkan ayat tersebut   sebagaimana penafsiran Departemen Agama RI. Terdapat juga di antara para <em>mufassir</em> itu yang mengakui bahwa Yesus diakui sebagai <em>kalimatullah</em> dalam Al Qur&rsquo;an. Mereka berpendapat bahwa Yesus adalah benar-benar <em>kalimatullah</em> (Firman Allah) dan itu tidak bisa disangkal. Namun, Firman   Allah bukanlah sebagaimana pemahaman Kristen. Dalam pemahaman Kristen, Yesus   adalah Firman yang <em>nuzul</em> menjadi daging (manusia). Firman itu adalah yang   kekal bersama-sama dengan Allah atau apa yang dibahasakan oleh kaum Asy&rsquo;ariah   sebagai &ldquo;Sifat Allah&rdquo;.</p>
<p>Olaf Schumann mengatakan &mdash;dalam suatu kesempatan di <em>Studium Generale</em> yang diadakan oleh STT Apostolos&mdash; bahwa kita harus membedakan pemahaman akan <em>Al Kalamu</em> dengan <em>Al Kalimatu</em>. Al Qur&rsquo;an menyebut Firman yang   adalah Sifat Tuhan itu dengan <em>Al Kalamu</em>, sedangkan <em>Al Kalimatu</em> menunjuk pada karya-karya Tuhan, seperti gunung, lautan, dan sebagainya. Jadi,   pemberian gelar <em>Kalimatullah</em> bagi Yesus tidak kemudian dipahami bahwa   Yesus adalah <em>Kalamullah</em>. Jadi, keliru juga penafsiran yang mengatakan   bahwa Yesus diciptakan dengan <em>kalimat</em> dari Tuhan, sebab ia adalah <em>kalimat </em>&nbsp;itu sendiri, namun bukan juga kemudian ditafsirkan sebagai <em>kalamullah</em>.</p>
<p><strong><em>2. R&#363;hullah</em></strong></p>
<p>Yesus dalam surat An Nisa/4:171 disebut sebagai &ldquo;<em>R&#363;h</em> yang dari Allah&rdquo;   sedangkan dalam surat At Tahrim/66:12 dikatakan bahwa Yesus adalah &ldquo;<em>R&#363;h</em> Allah yang ditiupkan ke dalam rahim Maria.&rdquo; Mengenai hal ini juga terdapat   perbedaan opini di antara para <em>mufassir</em> Islam. Mereka menghubungkan hal   ini dengan <em>Ruhul quddus</em> (Roh Kudus).<A title="" href="#_ftn5" name="_ftnref5">[5]</A></p>
<p>Pemikiran Islam umumnya didominasi oleh pemahaman bahwa yang dimaksud dengan <em>Ruhul quddus</em> itu adalah Malaikat Jibril. Malaikat Jibril dianggap sebagai   Malaikat yang menyampaikan kabar kepada Maria tentang kelahiran Yesus dan juga   dikatakan turut membantu kelahiran Yesus. Karena itu, penafsiran yang berkembang   kemudian mengatakan bahwa yang dimaksud oleh kedua ayat di atas adalah bahwa   Yesus lahir dengan bantuan Malaikat Jibril.</p>
<p><em>R&#363;hullah</em> sebetulnya berbicara tentang Roh Allah itu sendiri. Dalam   pemahaman Kristen, Roh Allah atau yang kemudian disebut dengan Roh Kudus, adalah   salah satu <em>hupostasis</em> Tuhan atau bisa dikatakan sebagai Sifat Tuhan. Roh   Allah melekat sehakekat dengan Esensi Tuhan <em>(Ouisa)</em>. Namun, tentunya   harus kita ingat bahwa kita tidak sedang berbicara tentang teologi Kristen,   melainkan Islam. Dalam penafsiran kebanyakn <em>mufassir</em> Islam, Yesus tidak   disebut sebagai <em>R&#363;hullah</em>. Ia hanya diciptakan dengan <em>R&#363;hullah</em> dengan bantuan Malaikat Jibril <em>(R&#363;hul quddus)</em>.</p>
<p><strong><em>3. Al   Muqarrab&#299;n</em></strong></p>
<p>Dalam Qs. Ali &lsquo;Imran/3:45 disebutkan bahwa Yesus adalah termasuk dalam <em>al   muqarrab&#299;n</em>. Kata ini secara harafiah berarti &ldquo;yang didekatkan&rdquo;. Departemen   Agama RI menerjemahkannya dengan kalimat &ldquo;orang-orang yang didekatkan kepada   Allah&rdquo;, namun pengertian ini pun masih sulit untuk dipahami.</p>
<p>Dalam surat Al Waqi&rsquo;ah/56:8-10 disebutkan adanya tiga golongan manusia pada   hari kiamat nanti, yaitu: (1) golongan kiri, (2) golongan kanan, dan golongan   yang paling dahulu beriman [menurut terjemahan Depag RI]. Menurut Al Qur&rsquo;an,   dalam ayat-ayat selanjutnya, dikatakan bahwa golongan yang ketiga ini adalah   golongan yang didekatkan (kepada Allah). Merekalah yang terlebih dulu masuk   surga [menurut penafsiran Depag RI]. Sedangkan, golongan kanan adalah juga   orang-orang yang berhak atas surga. Jika golongan ketiga ditafsirkan sebagai   golongan yang lebih dulu masuk surga, maka berarti golongan kanan adalah yang   kemudian. Golongan kiri digambarkan sebagai golongan yang akan mengalami   penderitaan dan siksaan. Bisa dikatakan bahwa tempat mereka adalah di   neraka.</p>
<p>Yang dimaksud dengan golongan <em>al muqarrab&#299;n</em> adalah mereka yang masuk   golongan ketiga. Pada ayat 10 dan 11 jelas sekali disebutkan siapa yang masuk   golongan ketiga. Ayat tersebut berbunyi &ldquo;<em>dan orang-orang yang paling dahulu   beriman, merekalah yang terdahulu. Mereka itulah <U>al muqarrab&#363;n</U></em>&rdquo;</p>
<p>Al Qur&rsquo;an menyebut Yesus sebagai salah seorang yang termasuk dalam golongan   ini. Artinya, bahwa Yesus adalah yang terdahulu masuk surga bersama-sama dengan   orang-orang lainnya yang masuk dalam golongan yang ketiga ini. Memang masih   kurang jelas penafsiran kita akan golongan ini, kemungkinan mereka adalah   orang-orang yang diutus Tuhan dan kemudian diangkat ke surga, seperti Henokh dan   Elia misalnya. Kemungkinan lain bahwa ada suatu kelompok manusia tersendiri yang   dipilih Tuhan untuk masuk lebih dulu ke dalam surga pada hari kiamat. Kelompok   ini, sebagaimana disebutkan dalam ayat di atas, disebut sebagai <em>as   s&acirc;biq&#363;n</em> (yang terdepan).</p>
<p><strong><em>4. J&#299;han, Ash Sh&#257;lih&#299;n, </em>dan <em>Mub&#257;rakan</em></strong></p>
<p>Dalam surat Ali &lsquo;Imran/3:45 terdapat janji Malaikat [Jibril] kepada Maria   ketika Malaikat itu diutus untuk menyampaikan kabar gembira tentang kelahiran   Yesus kepada Maria. Dalam Al Qur&rsquo;an terjemahan Depag RI diterjemahkan &ldquo;<U>orang   yang terkemuka</U> di dunia dan di akhirat&rdquo;. &ldquo;Orang yang terkemuka&rdquo; merupakan   terjemahan untuk kata <em>j&#299;han</em>. Kata ini juga sebetulnya dapat diartikan   sebagai &ldquo;orang yang dihormati&rdquo;.</p>
<p>Tafsiran terhadap ayat ini sepertinya kurang mendapat perhatian dari para <em>mufassir</em> Islam. Sedikit sekali bahkan mungkin tidak ada seorang pun <em>mufassir</em> yang mencoba menjelaskan lebih jauh apa yang dimaksud Al Qur&rsquo;an   dengan pernyataan tersebut. Mestinya, harus ada alasan kenapa Yesus disebut   sebagai orang yang terkemuka (dihormati) di dunia dan di akhirat.</p>
<p>Kalangan Kristen &ldquo;fundamentalis&rdquo; tentu akan memanfaatkan ayat ini dalam upaya   mencari kelemahan pandangan Islam tentang Yesus. Jika Yesus memang adalah yang   terkemuka di dunia dan di akhirat, kenapa kemudian bukan Yesus yang dijadikan   tokoh sentral dari ajaran Islam? Namun, barangkali ayat ini mau dikaitkan dengan   pernyataan berikutnya yang mengatakan bahwa Yesus adalah yang didekatkan kepada   Allah atau <em>al muqarrab&#299;n</em> tadi. Tapi, apakah &ldquo;terkemuka&rdquo; <em>(j&#299;han) </em>yang dimaksud di situ identik dengan &ldquo;terdahulu&rdquo; <em>(al muqarrab&#299;n)</em>? Hal   ini masih bisa dikaji lebih jauh.</p>
<p>Selain dikatakan sebagai <em>j&#299;han</em>, Yesus juga dikatakan sebagai orang   yang termasuk dalam kelompok orang-orang saleh <em>(ash sh&#257;lih&#299;n)</em>.</p>
<p>Pernyataan lainnya tentang Yesus yaitu bahwa Yesus adalah seorang yang   diberkati di mana saja ia berada. Untuk hal ini harus dipahami apa yang dimaksud   dengan &ldquo;berkat&rdquo; dalam pemahaman Islam. Berkat tentunya tidak saja berbicara   tentang pemberian materi atau harta oleh Tuhan. Berkat mengandung makna teologis   yang luas, di mana rasa aman termasuk di dalamnya. Artinya, berkat tidak hanya   berbicara <em>phisically</em> semata, melainkan seluruh aspek dari kehidupan   manusia, yaitu jasmani dan rohani.</p>
<p><strong>IV. Penutup&nbsp;</strong></p>
<p>Masih ada begitu banyak kesaksian Al Qur&rsquo;an tentang Yesus. Namun, semuanya   itu harus dipahami dalam pemahaman teologi Islam. Banyak kalangan berupaya   mencari kesaksian Al Qur&rsquo;an tentang Yesus yang adalah ilahi, namun pada akhirnya   kesan yang muncul adalah terlalu dipaksakan. Al Qur&rsquo;an menyorot Yesus yang   historis, bukan Yesus yang dogmatis. Setiap gelar yang dikenakan kepada Yesus   lebih dipahami dalam makna humanis, misalnya <em>al mas&#299;hun</em> (Mesias), <em>kalimatullah </em>(Firman Allah), <em>R&#363;hullah</em> (Roh Allah) ataupun   gelar-gelar lainnya.</p>
<p>Namun demikian, Al Qur&rsquo;an, sama halnya dengan Injil, masih memasukkan unsur   mitologi dalam penjelasannya tentang Yesus. Untuk itu, historisitas Yesus yang   murni tanpa percampuran mitologi tidak akan pernah kita temukan dalam teks-teks   yang ada dan diakui sekarang ini. Untuk memahami historisitas Yesus tersebut,   tawaran Rudolf Bultman tetap menjadi alternatif terbaik, yaitu <em>demitologisasi</em>.</p>
<p>Penulis: Yosi Rorimpandei</p>
<p><DIV>&nbsp;<br />
    <HR align="left" SIZE="1" width="33%"><br />
    <DIV id="ftn1"><A title="" href="#_ftnref1" name="_ftn1">[1]</A> Maryam merupakan sebutan Arab untuk Maria,   ibu Yesus</DIV><br />
  <DIV id="ftn2"><A title="" href="#_ftnref2" name="_ftn2">[2]</A> Dalam liturgi gereja ortodoks, Maria disebut   sebagai &ldquo;orang yang penuh rahmat&rdquo;. Tradisi pengagungan Maria juga dilanjutkan   oleh gereja Katolik. Tradisi ini baru mendapat kritikan pada zaman reformasi   gereja, terutama setelah Luther mengkritik pemujaan terhadap icon-icon   gereja</DIV><br />
  <DIV id="ftn3"><A title="" href="#_ftnref3" name="_ftn3">[3]</A> Maulana M. Ali. <em>The Holy Qur&rsquo;an: Arabic   Text, English Translation and Commentary</em>, diterjemahkan oleh H.M. Bachrun   (Jakarta: Darul Kutubil Islamiyah)</DIV><br />
  <DIV id="ftn4"><A title="" href="#_ftnref4" name="_ftn4">[4]</A> <em>al muqqarabin</em> secara harafiah artinya   &ldquo;yang didekatkan&rdquo;</DIV><br />
  <DIV id="ftn5"><A title="" href="#_ftnref5" name="_ftn5">[5]</A> Ada perbedaan antara <em>R&#363;hul quddus</em> dengan <em>R&#363;hul qudd&#363;s</em>. <em>R&#363;hul quddus </em>adalah <em>r&#363;h </em>yang berada di   luar <em>dzat </em>Allah dalam bentuk ciptaan, seperti malaikat,   dsb.</DIV><br />
</DIV></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.oyr79.com/magen/yesus-dalam-al-quran/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Kapan Yesus Disalib?</title>
		<link>http://www.oyr79.com/magen/kapan-yesus-disalib/</link>
		<comments>http://www.oyr79.com/magen/kapan-yesus-disalib/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 04 Apr 2008 08:20:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rabbi</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Alkitab]]></category>

		<category><![CDATA[Kristologi]]></category>

		<category><![CDATA[Sejarah]]></category>

		<category><![CDATA[disalib]]></category>

		<category><![CDATA[Yesus]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.oyr79.com/magen/?p=23</guid>
		<description><![CDATA[Alkitab tidak menulis bahwa Yesus Kristus disalib dan mati pada hari   Jumat.
Matius, Markus, dan Lukas hanya menulis hari   persiapan (Yunani: paraskeu&#234;),   sedangkan Yohanes menulis bahwa Yesus Kristus disalib pada hari   persiapan Paskah (paraskeu&#234; tou   paskha, Yohanes 19:14) berarti sehari sebelum PESAKH (Paskah Yahudi) yang jatuh [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Alkitab tidak menulis bahwa Yesus Kristus disalib dan mati pada <strong><u>hari   Jumat</u></strong>.</p>
<p>Matius, Markus, dan Lukas hanya menulis <strong><u>hari   persiapan</u></strong> (Yunani: <u><em>paraskeu&ecirc;</em></u>),   sedangkan Yohanes menulis bahwa Yesus Kristus disalib pada <strong><u>hari   persiapan Paskah</u></strong> (<u><em>paraskeu&ecirc; tou   paskha</em></u>, Yohanes 19:14) berarti sehari sebelum <u>PESAKH</u> (Paskah Yahudi) yang jatuh pada tanggal 14 bulan   Nisan.</p>
<p><span id="more-23"></span></p>
<blockquote><p>Keesokan harinya, yaitu sesudah <strong><u>hari     persiapan</u></strong>, datanglah imam-imam kepala dan orang-orang Farisi     bersama-sama menghadap Pilatus, (Matius 27:62, TB-LAI)</p></blockquote>
<blockquote><p><em>t&ecirc; de epaurion &ecirc;tis estin meta t&ecirc;n <strong><u>paraskeu&ecirc;n</u></strong> sun&ecirc;khth&ecirc;san hoi arkhiereis kai hoi     pharisaioi pros pilaton</em></p></blockquote>
<blockquote><p>Sementara itu hari mulai malam, dan hari itu adalah <strong><u>hari     persiapan</u></strong>, yaitu <strong><u>hari menjelang Sabat</u></strong>. (Markus 15:42,     TB-LAI)</p></blockquote>
<blockquote><p><em>kai &ecirc;d&ecirc; opsias genomen&ecirc;s epei &ecirc;n <strong><u>paraskeu&ecirc;</u></strong> ho estin <strong><u>prosabbaton</u></strong></em></p></blockquote>
<blockquote><p>Hari itu adalah <strong><u>hari persiapan</u></strong> dan <strong><u>sabat     hampir mulai</u></strong>. (Lukas 23:54, TB-LAI)</p></blockquote>
<blockquote><p><em>kai h&ecirc;mera &ecirc;n <strong><u>paraskeu&ecirc;</u></strong> kai <strong><u>sabbaton     epeph&ocirc;sken</u></strong></em></p></blockquote>
<blockquote><p>Hari itu ialah <strong><u>hari persiapan Paskah</u></strong>, kira-kira jam     dua belas. Kata Pilatus kepada orang-orang Yahudi itu: &quot;Inilah rajamu!&quot;     (Yohanes 19:14, TB-LAI)</p></blockquote>
<blockquote><p><em>&ecirc;n de <strong><u>paraskeu&ecirc; tou paskha</u></strong> h&ocirc;ra de h&ocirc;sei     hekt&ecirc; kai legei tois ioudaiois ide ho basileus hum&ocirc;n</em></p></blockquote>
<blockquote><p>WAYOMAR &#8216;EL-HAYEH&Ucirc;D&Icirc;M BA<strong><u>&#8216;EREV HAPESAKH</u></strong> HAH&Ucirc;&#8217;     KASHO&#8217;&Acirc;H HASHISH&Icirc;T HIN&Ecirc;H MALKEKHEM (HaBrit HaKhadasya)</p></blockquote>
<p>Yesus Kristus disalib pada hari Jumat adalah anggapan sebagian orang karena   menurut mereka hari persiapan itu adalah sehari sebelum Sabat mingguan atau hari   Sabtu, thus sehari sebelum hari Sabtu adalah hari Jumat. Bagaimana pula dengan   hari persiapan Paskah? Apakah Paskah Yahudi saat itu jatuh pada hari Sabtu?</p>
<p>Paskah Yahudi senantiasa diusahakan tidak jatuh pada hari Sabtu, jika   seandainya bakal jatuh pada hari Sabtu, maka mereka akan menggeser hari tersebut   dalam penanggalan.</p>
<p>Suatu ketika di tahun 2001 yang lalu bertepatan dengan tahun Yahudi 5761,   pernah terjadi hal serupa yaitu Paskah jatuh pada Minggu sore, setelah Sabat   Mingguan dan merupakan suatu hal yang rumit, saling tabrakan, karena persiapan   Paskah tidak dapat dilakukan pada hari Sabat Sabtu, oleh karena itu persiapan   Paskah justru dilakukan pada hari Kamis.</p>
<p>Yang lebih rumit lagi adalah antara membuang <u>KH&Acirc;METS</u> (ragi) dengan <u>KH&Acirc;METS</u> yang digunakan untuk tiga jenis roti yang   dimakan di hari Sabat Sabtu. Di satu pihak <u>KH&Acirc;METS</u> tidak boleh berada di dalam rumah di hari   Paskah, di pihak lain <u>KH&Aring;METS</u> diperlukan untuk   roti Sabat Sabtu yang disebut <u>KH&Acirc;LAH</u>, roti   manis bercampur telur DAN RAGI. Benar-benar rumit, oleh karena itulah maka para   rabi Yahudi yang menyusun penanggalan Yahudi senantiasa mengusahakan agar <u>PESAKH</u> (Paskah Yahudi) tidak jatuh bertepatan   dengan Sabat Sabtu.</p>
<blockquote><p>Kamu makanlah roti yang tidak beragi tujuh hari lamanya; pada hari     pertamapun kamu <strong><u>buanglah segala ragi dari rumahmu</u></strong>, sebab setiap     orang yang makan sesuatu yang beragi, dari hari pertama sampai hari ketujuh,     orang itu harus dilenyapkan dari antara Israel. (Keluaran 12:15,   TB-LAI)</p></blockquote>
<blockquote><p>SYIV&#8217;AT Y&Acirc;M&Icirc;M MATS&Ocirc;T TO&#8217;KH&Ecirc;L&Ucirc; &#8216;AKH BAY&Ocirc;M H&Acirc;RI&#8217;SH&Ocirc;N <strong><u>TASHB&Icirc;T&Ucirc; SE&#8217;OR</u></strong> MIB&Acirc;T&Ecirc;YKHEM K&Icirc; KOL-&#8217;OKH&Ecirc;L KH&Acirc;M&Ecirc;TS WENIKHRET&Acirc;H     HANEFESY HAHIV&#8217; M&Icirc;YISR&Acirc;&#8217;&Ecirc;L M&Icirc;Y&Ocirc;M H&Acirc;RI&#8217;SHON &#8216;AD-Y&Ocirc;M HASHEVI&#8217;&Icirc;</p></blockquote>
<p>Dengan perkataan lain, Paskah Yahudi bukan hari Sabtu (Sabat Mingguan), dan   hari persiapan Paskah tentu saja bukan hari Jumat.</p>
<p>Jika seandainya Yesus Kristus disalib dan mati pada hari Jumat, kapan   wanita-wanita menurut ayat di bawah ini membeli dan menyiapkan   rempah-rempah?</p>
<blockquote><p><strong><u>Setelah lewat hari Sabat</u></strong>, Maria Magdalena dan Maria     ibu Yakobus, serta Salome membeli rempah-rempah untuk pergi ke kubur dan     meminyaki Yesus.&quot; (Markus 16:1, TB-LAI)</p></blockquote>
<blockquote><p><em>kai <strong><u>diagenomenou tou sabbatou</u></strong> maria h&ecirc;     magdal&ecirc;n&ecirc; kai maria h&ecirc; tou iak&ocirc;bou kai sal&ocirc;m&ecirc; &ecirc;gorasan ar&ocirc;mata hina elthousai     aleips&ocirc;sin auton</em></p></blockquote>
<p>Jika seandainya hari Sabat yang dimaksud adalah Sabtu, maka wanita-wanita itu   membeli rempah-rempah di antara Sabtu sore hingga Minggu sore, karena ditulis   setelah lewat hari Sabat, <u><em>diagenomenou tou   sabbatou</em></u>. Hari Minggu menurut kalangan Yahudi dimulai sejak Sabtu   sore setelah matahari terbenam hingga Minggu sore, thus mereka <em>shopping</em> di malam Minggu.</p>
<blockquote><p>Dan setelah pulang, mereka menyediakan rempah-rempah dan minyak     mur. Dan <strong><u>pada hari Sabat mereka beristirahat</u></strong> menurut hukum     Taurat, (Lukas 23:56, TB-LAI)</p></blockquote>
<blockquote><p><em>hupostrepsasai de h&ecirc;toimasan ar&ocirc;mata kai mura kai to men <strong><u>sabbaton h&ecirc;sukhasan</u></strong> kata t&ecirc;n entol&ecirc;n</em></p></blockquote>
<p>Kali ini timbul masalah baru, ternyata mereka <strong><u>menyediakan</u></strong> (<u><em>hetoimaz&ocirc;</em></u>, dapat saja mencakup makna <strong><u>membeli</u></strong>) rempah-rempah setelah pulang dari Golgota, dan pada hari   Sabat (jika seandainya adalah hari Sabtu), ternyata mereka <strong><u>beristirahat</u></strong>. Thus membeli rempah-rempah sebelum hari Sabat.</p>
<p>Pertanyaan, kapan mereka membeli rempah-rempah, <strong><u>sebelum</u></strong> hari   Sabat (menurut Lukas) atau <strong><u>sesudah</u></strong> hari Sabat (menurut   Markus)?</p>
<p>Markus menulis bahwa para wanita membeli rempah-rempah setelah hari Sabat,   jika Sabat dimaksud adalah Sabtu, berarti mereka membeli rempah-rempah antara   Sabtu sore hingga Minggu sore, sedangkan Yesus Kristus sudah bangkit di Minggu   pagi.</p>
<p>Perhitungan hari Yahudi adalah sejak matahari terbenam hari yang bersangkutan   hingga matahari terbenam keesokan harinya. Sabat mingguan dimulai sejak Jumat   sore hingga Sabtu sore.</p>
<p>Lukas pula menulis bahwa para wanita itu mempersiapkan (termasuk dalam   pengertian membeli) rempah-rempah setelah pulang dari Golgota, dan mereka   beristirahat pada hari Sabat, thus mereka membeli rempah-rempah itu sebelum hari   Sabat, atau antara tenggang waktu sebelum Jumat sore.</p>
<p>Jumat sore hingga Sabtu sore adalah Sabat Mingguan, tidak boleh berbelanja,   thus para wanita itu tidak membeli rempah-rempah di antara tenggang waktu   itu.</p>
<p>Jika kedua ayat di atas dipadukan, kemudian ditafsirkan bahwa Sabat dimaksud   adalah hari Sabtu, maka kedua ayat ini bakal bertentangan satu sama lain, karena   di satu pihak mereka membeli rempah-rempah sebelum hari Sabtu, di pihak lain   mereka membeli rempah-rempah setelah hari Sabtu.</p>
<p>Mengapa terjadi pertentangan? Pertentangan itu terjadi karena hanya ada satu   hari Sabat, tetapi jika ada dua hari Sabat, niscaya tidak akan terjadi   pertentangan.</p>
<p>PESAKH atau Paskah Yahudi merupakan hari Sabat yang tidak jatuh pada hari   Sabtu. Berdasarkan penelitian sebagian pakar Alkitab, Paskah Yahudi di zaman itu   jatuh pada hari Rabu, tanggal 14 bulan Nisan, thus Rabu sore hingga Kamis sore   adalah Sabat Paskah. Dengan demikian maka cerita menurut Markus dan Lukas dapat   dirangkum begini:</p>
<ol>
<li>Rabu pagi hingga sore, Yesus Kristus disalib, &#8216;EREV     PESAKH. </li>
<li>Rabu sore hingga Kamis sore, <u>PESAKH</u> (Paskah Yahudi) disebut juga <u>SH&Acirc;BAT GAD&Ocirc;L</u>, sabat besar. </li>
<li>Kamis sore hingga Jumat sore, para wanita membeli rempah-rempah setelah     Sabat Paskah (Markus 16:1) tetapi sebelum Sabat Mingguan (Sabtu). </li>
<li>Jumat sore hingga Sabtu sore, Sabat Mingguan (Sabtu), para wanita     beristirahat (Lukas 23:56). </li>
<li>Sabtu sore hingga Minggu sore, Yesus Kristus bangkit.</li>
</ol>
<p>Rangkuman di atas membuktikan perkataan Yesus Kristus dalam Matius 12:40,   &quot;Sebab seperti Yunus tinggal di dalam perut ikan tiga hari tiga malam, demikian   juga Anak Manusia akan tinggal di dalam rahim bumi tiga hari tiga malam.&quot;   Tenggang waktu antara Rabu sore dengan Sabtu sore merupakan tenggang waktu tiga   hari dan tiga malam.</p>
<ul>
<li>24 jam pertama, Rabu sore hingga Kamis sore; </li>
<li>24 jam kedua: Kamis sore hingga Jumat sore; </li>
<li>24 jam ketiga: Jumat sore hingga Sabtu sore.</li>
</ul>
<p>Oleh karena Sabat Mingguan berakhir pada petang hari, maka Sabtu malam sudah   mulai hari pertama. Yesus Kristus bangkit pada hari pertama, entah pada jam   berapa, mungkin tengah malam. Yang jelas adalah pada waktu fajar, para wanita   yang datang ke kubur-Nya, mereka menemukan kubur yang kosong. YESUS KRISTUS   SUDAH BANGKIT.</p>
<p>Meskipun ada dua versi tentang hari kematian Yesus Kristus yaitu Rabu dan   Jumat, namun hal itu bukan mengurangi arti dan tujuan wafat atau kematian Yesus   Kristus. Yang jelas bahwa Kristus sudah datang. Dengan datangnya Anak Domba   Allah yang sudah dikorbankan, maka perayaan <u>PESAKH</u> Yahudi tidak diperlukan lagi, karena wujud dari   apa yang dibayangkan oleh Anak Domba Paskah itu sudah datang dan menyelesaikan   misi keselamatan-Nya. Tidak penting untuk memperdebatkan pada hari apa Dia   wafat, sebaga yang perlu diketahui adalah bahwa Dia sudah wafat, kita dapat   memperingatinya pada hari apa pun juga seperti halnya kita dapat mengadakan   Perjamuan Kudus kapan saja untuk memperingati kematian-Nya.</p>
<blockquote>
<p>Demikian juga Ia mengambil cawan, sesudah makan, lalu berkata:     &quot;Cawan ini adalah perjanjian baru yang dimeteraikan oleh darah-Ku; perbuatlah     ini, setiap kali kamu meminumnya, menjadi peringatan akan Aku!&quot; (1 Korintus     11:25, TB-LAI)</p>
</blockquote>
<p>Penulis: Yohanes</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.oyr79.com/magen/kapan-yesus-disalib/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Baptisan (dan Peneguhan Sidi) dan Perjamuan Kudus</title>
		<link>http://www.oyr79.com/magen/baptisan-dan-peneguhan-sidi-dan-perjamuan-kudus/</link>
		<comments>http://www.oyr79.com/magen/baptisan-dan-peneguhan-sidi-dan-perjamuan-kudus/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 08 Mar 2008 09:56:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rabbi</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Liturgika]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.oyr79.com/magen/baptisan-dan-peneguhan-sidi-dan-perjamuan-kudus/</guid>
		<description><![CDATA[Baptisan dan fenomena inisiasi
Adanya praktek baptisan dan peneguhan sidi di Gereja-gereja merupakan fenomena umum apabila dilihat melalui kacamata sosiologis, yakni upacara inisiasi. Inisiasi berasal dari kata initiatio: peresmian, upacara penerimaan; initium: awal, mulai. Hampir setiap komunitas masyarakat: negara, kampus, biara, palang merah, Pramuka, perguruan silat, dsb., baik tradisional maupun modern, memiliki ritus inisiasi. Seseorang yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Baptisan dan fenomena inisiasi</strong></p>
<p>Adanya praktek baptisan dan peneguhan sidi di Gereja-gereja merupakan fenomena umum apabila dilihat melalui kacamata sosiologis, yakni upacara inisiasi. Inisiasi berasal dari kata initiatio: peresmian, upacara penerimaan; initium: awal, mulai. Hampir setiap komunitas masyarakat: negara, kampus, biara, palang merah, Pramuka, perguruan silat, dsb., baik tradisional maupun modern, memiliki ritus inisiasi. Seseorang yang ingin masuk ke dalam komunitas tersebut harus melewati sejumlah pengujian layak atau tidaknya.[1] Pengujian itu harus ditempuh agar seseorang diakui sebagai “warga resmi” komunitas tersebut, dengan memiliki sejumlah hak dan kewajibannya.<span id="more-22"></span></p>
<p>Gereja yang lahir sebagai salah satu unsur masyarakat pun memiliki warisan dan imbasan fenomena inisiasi. Dengan melewati tahap baptisan (dan peneguhan sidi), seseorang resmi diakui sebagai warga gereja dan bahkan warga Kristen universal. Dengan demikian ia memiliki sejumlah hak dan kewajiban. Semula, menurut naskah-naskah Perjanjian Baru baptisan sebagai ritus inisiasi adalah sederhana. Dalam perjalanan sejarah Gereja, hak dan kewajiban tersebut beberapa kali mengalami pergeseran makna, pertambahan, pengurangan, variasi, adaptasi, kontekstualiasasi, reinterpretasi, dsb. sehingga menjadi seperti yang kita kenal dan alami saat ini.</p>
<p>Baptisan merupakan upacara inisiasi yang telah lama dipraktekkan oleh Gereja, dan berlaku secara universal. Baptisan berasal dari kata βάπτίζω: mencelupkan ke dalam air, membasuh dengan air, wudu, mencuci. Inisiasi baptisan yang menggunakan air sebagai sarana merupakan warisan pengaruh dari masyakarat umum ketika Gereja mula-mula berdiri. Komunitas Yahudi Qumran dan Yohanes Pembaptis seringkali disinyalir sebagai pembawa tradisi inisiasi baptisan Kristen dengan sarana air – jelas berbeda dengan inisiasi sunat, sebagaimana dipraktekkan oleh umat Israel dalam Perjanjian Lama.[2]</p>
<p>Sekalipun tradisi Gereja awal menggunakan air hidup, yakni air mengalir atau mata air, namun tidak lama setelah abad pertama tradisi Gereja memberikan alternatif menggunakan air tidak mengalir. Didakhe menuliskan sebagai berikut:</p>
<p>Baptisan sebagai berikut: setelah ada penjelasan tentang segala hal yang penting perihal pembaptisan, maka baptislah di dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, di dalam air mengalir. Tetapi apabila tidak mempunyai air mengalir, baptislah dengan air yang lain; apabila tidak ada air dingin, pergunakanlah air hangat; tetapi apabila tidak punya air banyak, tuangkanlah air ke atas kepala sejumlah tiga kali di dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus.[3]</p>
<p>Air apa pun boleh digunakan untuk membaptis, sebab yang ingin ditekankan di sini adalah air sebagai alat pembersih yang bersifat natural, simbol kehidupan dan kesuburan (Yes 41:17). Baptisan dengan menggunakan sarana air menyimbolkan pembersihan dari kenajisan, yakni dosa. Setelah pembersihan karena dosa, maka kini ada kehidupan; atau dipahami juga sebagai keselamatan. Kehidupan dipahami sebagai karya Roh Kudus. Oleh karena itu dalam Perjanjian Baru, baptisan biasa dihubungkan dengan pengampunan dosa dan Roh Kudus yang menerangi, membenarkan, menguduskan, dan menghidupkan (Yoh 1:33; 3:5-8; Kis 2:38; 9:17-18; Kol 2:12-13; Tit 3:5-6).[4] Seseorang yang ingin (dianggap) termasuk peguyuban Kristen tersebut – mereka yang telah memperoleh pengampunan dosa, mendapat curahan Roh Kudus, dikuduskan, dsb. – masuk melalui ritus inisiasi baptisan.</p>
<p><strong>Peneguhan sidi (confirmatio) sebagai inisiasi berikut</strong></p>
<p>Lama kelamaan, ritus inisiasi dengan air: baptisan, ini dilengkapi dengan pencurahan Roh Kudus – yang entah bagaimana datangnya, kemudian dilakukan melalui penumpangan tangan. Perkembangan tersebut ditampilkan dalam liturgi baptisan pada hari raya Paska, menurut Hippolytus, sebagai berikut:</p>
<p>Pada jam ayam berkokok inisiasi dimulai dengan pemberkatan air baptisan, minyak eksorsisme, dan krisma, oleh Uskup. Para calon baptis membuka pakaian, lalu melakukan eksorsisme: “Aku menolak setan, …” di hadapan Imam. Imam mengolesi badan mereka dengan minyak, sambil berkata: “Pergilah, setan-setan, pergilah darinya!” Lalu, calon baptis masuk ke tempat air, di mana Imam dan Diakon telah ada di situ sebelumnya.<br />
1] Baptisan dilakukan dengan menyelamkannya. Sebelumnya Imam menanyakan kepercayaan calon baptis: “Apakah angkau percaya kepada Allah, Bapa?” Calon baptis menjawab: “Ya.” Maka ia dimasukkan ke dalam air; tangan Imam menekan kepalanya.<br />
Setelah tanya-jawab Tritunggal dan pembaptisan tersebut dilakukan, calon baptis naik dari air. Imam lain kemudian meminyaki kepalanya dengan krisma: “Aku meminyaki engkau dengan minyak kudus dalam nama Yesus Kristus.”</p>
<p>2] Setelah calon baptis berpakaian, Uskup menumpangkan tangan ke atas mereka, lalu memohonkan: “Tuhan Allah yang telah memperhitungkan pelayanan mereka, melimpahi mereka dengan Roh Kudus dan menganugerahi mereka agar melayani-Mu sesuai dengan kehendak-Mu ….”</p>
<p>Kemudian Uskup menuangkan minyak krisma dan meletakkan tangan ke atas kepala calon baptis tadi, dan berkata: “Aku meminyaki engkau dengan minyak kudus di dalam nama Bapa, dan Anak, dan Roh Kudus.” Uskup memberikan tanda juga pada dahi calon baptis tersebut dan memberikan cium kudus.</p>
<p>Setelah ritus baptisan ini selesai, para baptisan baru tersebut masuk ke ruang ibadah, bergabung dengan umat lain, dan merayakan perjamuan kudus. Perjamuan kudus tersebut adalah perjamuan mereka yang pertama.[5]</p>
<p>Dengan demikian, ketiga ritus yang kini terpisah: baptisan, peneguhan sidi, dan perjamuan kudus, merupakan satu ritus inisiasi pada zaman Patristik. Ketiga elemen atau sarana simbol pun digunakan, yaitu: 1) air, untuk baptisan; 2) Roh Kudus, untuk peneguhan sidi; 3) roti dan anggur, untuk perjamuan kudus. Terutama air dan Roh Kudus dalam baptisan dipandang sama sejajar sebagaimana roti dan anggur dalam perjamuan kudus.[6] Selain ketidakterpisahan antara baptisan dan sidi, juga mengindikasikan bahwa baptisan tersebut diterimakan kepada orang dewasa. Sebab calon baptis menjawab sendiri pertanyaan baptisannya. Lagipula, Perjanjian Baru tidak pernah secara eksplisit menyatakan adanya baptisan kepada anak,[7] walaupun tidak tertutup kemungkinan adanya anak yang dibaptis di antara ribuan orang yang dibaptis sekaligus pada zaman para Rasul.</p>
<p>Abad ke-5 adalah masa puncak fenomenal pemisahan sidi dari baptisan. Namun baru pada abad ke-11 di Gereja Barat,[8] terjadi pemisahan dan sekaligus pengurutan mana-mana sakramen yang didahulukan dan yang kemudian antara baptisan dengan peneguhan sidi. Di Gereja Roma Katolik pemisahan tersebut bukan melulu menyangkut alasan karena jemaat yang dibaptis masih usia anak, maka tunggu usia dewasa baru seseorang diterimakan sidi, tetapi juga pada urutan makna. Dalam urutan sakramen – sebagaimana teologi yang berkembang pada Abad-abad Pertengahan – adalah sebagai berikut: pertama, baptisan; kedua, pengakuan dosa; ketiga, perjamuan pertama; keempat, penguatan; dst.[9] Soal terjadinya urutan itu, logikanya kira-kira begini: karena kelahiran, tak dapat ditawar, seseorang menerima baptisan. Oleh karena masih bayi, maka sidinya ditangguhkan, namun perjamuan kudus dapat diterimakan kepadanya karena telah dibaptis. Untuk menandakan seseorang layak atau tidak menerima komuni, maka dibuatlah sakramen pengakuan dosa sebelum perjamuan kudus.[10]</p>
<p>Pemisahan ritus baptisan dari peneguhan sidi: yang mana baptisan dan yang mana sidi, adalah pada penggunaan air. Sebagaimana kutipan praktek baptisan di atas, nomor 1] merupakan ritus baptisan, nomor 2] adalah bagian yang kemudian disebut sidi atau penguatan. Sidi dengan penumpangan tangan dengan satu atau dua tangan tersebut dilakukan dengan atau tanpa perminyakan, meminyaki dahi atau seluruh tubuh, membuat tanda salib di dahi dengan atau tanpa minyak; waktu itu belum ada keseragaman praktek di antara induk-induk liturgi.[11] Adanya pencurahan Roh Kudus merupakan pemahaman umum dalam ritus baptisan dan peneguhan sidi. Juga merupakan pemahaman umum – walaupun didahului oleh penafsiran personal setiap Uskup dan teolog zaman itu – bahwa tata gerak Uskup yang meneguhkan calon sidi tersebut dilihat sebagai telah diterimanya calon sidi tersebut ke dalam persekutuan Gereja bagi orang baru dan tanda rekonsiliasi bagi mereka yang pernah menjadi bidat.[12]</p>
<p>Dewasa ini dan dalam menanggapi hal pengurutan sakramen-sakramen, tidak semua teolog (termasuk dari Roma Katolik) bersetuju dengan pemisahan tersebut.[13] Artinya, tidak bersetuju bahwa sidi ditempatkan setelah perjamuan kudus pertama. Sebab bagaimana pun, sidi (atau sakramen penguatan) merupakan ritus yang menyertai (act subsequent to) dan memperlengkapi atau bahkan menyempurnakan baptisan.[14] Bahasa Indonesia: sidi, berarti sempurna. Logikanya: tidaklah mungkin memisahkan peneguhan sidi dari baptisan hanya karena alasan seseorang belum akilbalig untuk menerima peneguhan sidi. Konsekuensinya, antara baptisan dan sidi tidak boleh ada “jeda” yang diisi dengan sakramen lain, misalnya: perjamuan kudus.</p>
<p>Namun menurut pihak yang bersetuju memiliki dasar biblis pula bahwa dalam peguyuban Paulus tidak ada penumpangan tangan yang menyertai baptisan air.[15] Praktek liturgi Gereja awal, penumpangan tangan tidak berhubungan sama sekali dengan Roh Kudus sehingga dapat disebut sebagai akar peneguhan sidi. Sekalipun 2Korintus 1:21 telah menuliskan “meneguhkan”, namun istilah confirmatio (penetapan, penguatan) sendiri – sebagaimana praktek peneguhan sidi – baru muncul pada sekitar abad ke-5 di Gereja Barat atau setelah ada pemisahan yang tegas antara baptisan dan peneguhan sidi. Memang beberapa naskah Perjanjian Baru mencantumkan pencurahan Roh Kudus, namun tidak selalu berhubungan dengan baptisan,[16] sehingga tidak pas apabila disejajarkan dengan peneguhan sidi sebagaimana pemahaman masa kini.</p>
<p>Dalam praktek di dalam sejarah Gereja Roma Katolik, kedua pendapat tersebut tidak pernah ditolak, walaupun masih tetap diperdebatkan hingga kini. Jelas, satu-satunya “kambing hitam” yang diajukan sehubungan dengan polemik teologis perihal adanya peneguhan sidi adalah baptisan anak.</p>
<p>Melihat perbedaan tersebut Gereja-gereja Protestan di Indonesia (termasuk GKI) rupanya lebih dapat memuaskan keinginan teologis mereka yang memandang baptisan (dan sidi) dan perjamuan kudus adalah dua sakramen yang saling menyertai. Namun tunggu dulu! Peneguhan sidi bagi Gereja-gereja Protestan di Indonesia adalah pelantikan seseorang menjadi anggota jemaat penuh dengan kewajiban dan haknya, baik ikut perjamuan kudus maupun kawin dan terpilih menjadi pejabat gereja.[17] Kalau baptisan anak dipandang sebagai inisiasi belum penuh, maka peneguhan sidi adalah inisiasi penuh. Akar dari pemahaman tersebut telah ada sejak zaman Reformasi abad ke-16. Luther dan Calvin memahami sidi sebagai pendahulu perjamuan kudus.</p>
<p>Pada pihak lain hendak dipertahankan bahwa anak-anak dididik dalam iman sebelum mereka ikut dalam perjamuan kudus, suatu hal yang justru ditegaskan pada akhir Abad-abad Pertengahan. Sekaligus tidak ada keberatan untuk mempertahankan kebiasaan untuk menyertai komuni pertama, saat pertama anak ikut dalam perjamuan kudus, dengan upacara khusus, yang tidak bersifat sakramen, namun penuh khidmat. Demikianlah diciptakan konfirmasi atau peneguhan sidi Protestan.[18]</p>
<p>Dengan demikian, peneguhan sidi adalah prasyarat untuk perjamuan kudus pertama. Hanya sidi itu memang berlangsung pada usia seseorang masih dini: sekitar 10 tahun,[19] dan belum akilbalig; tentu belum layak menikah. Seseorang baru dinyatakan akilbalig atau dewasa secara hukum, yakni disebut anggota sidi (lama setelah dilakukan peneguhan sidi kepadanya) dengan hak untuk memilih dan dipilih sebagai pejabat gereja, adalah 18 tahun.[20] Jadi Calvin membedakan antara peneguhan sidi untuk perjamuan kudus dan pernyataan dewasanya seseorang yang akilbalig. Bagi Calvin adalah dimungkinkan orang yang telah disidi dan ikut perjamuan kudus tidak serta merta memiliki hak menjadi pejabat gereja dan menikah, karena masih di bawah umur.</p>
<p>Praktek dan pemahaman Gereja-gereja Protestan di Indonesia selama ini seringkali terbalik dan agak rancu, antara peneguhan sidi dan kedewasaan. “Bukan orang harus menjadi dewasa lebih dahulu baru dapat menjadi anggota sidi Gereja, tetapi ia harus disidi untuk menjadi dewasa.”[21] Hal ini masih sering terjadi di mana Majelis Jemaat buru-buru meneguhkan sidi seseorang sebab bulan depan ia menikah.</p>
<p>TALAK GKI menetapkan syarat usia calon baptis (pasal 22:2a) dan calon sidi (pasal 25:2a) adalah 15 tahun.[22] Syarat usia sudah dipraktekkan oleh Sinode-sinode Wilayah sejak lama dan beberapa kali mengalami perubahan. Tak ada alasan tertulis tentang munculnya perubahan usia tersebut, namun tampaknya berhubungan dengan usia boleh kawin atau belum,[23] kecuali TALAK GKI yang tampaknya tidak terlalu berdasarkan kawin tersebut. Perubahan-perubahan usia tersebut merupakan penyesuaian usia cukup untuk menikah.</p>
<p><strong>Baptisan anak: alasan kemunculannya</strong></p>
<p>Oleh karena sejak semula baptisan dihubungkan dengan keselamatan, dan karena seringkali terjadi seorang anak atau bayi meninggal sebelum dibaptis, maka muncullah praktek seseorang dibaptis secepat mungkin setelah kelahirannya. Tidak jelas kapan dan di mana tepatnya praktek ini semula muncul, namun Gereja-gereja di wilayah Afrika Utara: Karthago dan Aleksandria, telah lazim membaptiskan bayi sejak abad ke-3. Origenes, Cyprianus, Augustinus mengemukakan bahwa seseorang telah memiliki dosa warisan atau dosa asal. Oleh sebab itu, seawal mungkin patutlah seseorang – melalui orangtuanya – dinyatakan terhapus dari warisan dosa tersebut, tidak perlu tunggu ia dewasa.[24] Yesus memberkati anak-anak (Mat 19:13-15; Mrk 10:13-16; Luk 18:15-17) telah lazim digunakan sebagai dasar baptisan anak sejak tahun 200-an. Sementara Gereja yang lain menggunakan nas tersebut sebagai penyerahan anak kepada Tuhan, bukan untuk dibaptis.[25] Sampai kini, Gereja-gereja tetap memakai dasar tersebut untuk baptisan anak; satu-satunya sakramen yang tidak secara langsung diperintahkan oleh Yesus.</p>
<p>Walaupun pandangan Augustinus cs. ditentang oleh Pelagius, baptisan anak tetap dan malahan semakin marak diberlakukan setelah zamannya. Adanya pertentangan itu justru membuktikan adanya praktek baptisan anak waktu itu. Beberapa kekecualian dan cara untuk mengatasi persoalan kanak-kanak, coba diselaraskan untuk keperluan tersebut. Penyelarasan tersebut mau tak-mau menimbulkan perubahan dalam proses pembaptisan. Misalnya: masa katekumenat yang dikenakan kepada calon baptis, untuk baptisan anak ditiadakan; eksorsisme ditiadakan dengan pemahaman bahwa formula yang diucapkan oleh Imam tersebut berlaku otomatis sebagai eksorsisme; tanya-jawab baptisan yang ditujukan kepada calon baptis, kini dapat diwakilkan kepada sponsor atau orangtua rohani hingga anak tersebut dewasa dan dapat mengucapkan imannya sendiri; dan (ini yang langsung berhubungan dengan sidi) eksorsisme dan peneguhan yang biasanya langsung diterapkan, kini ditunda hingga anak tersebut mampu sendiri memahaminya.[26] Saat akilbalig: 15 tahun-an, dirasa saat yang pas untuk melaksanakan maksud itu.</p>
<p>Pernyataan iman itu tetap perlu dan dianggap vital untuk keselamatan. Hingga sebelum anak tersebut dewasa (akilbalig), di mana ia belum mampu menyatakan imannya sendiri, padahal ia berpotensi melakukan perbuatan tak baik secara moral, tugas orangtua rohani atau orangtua serani menjadi berat. Perubahan lain adalah praktis, yakni menuangkan air ke atas kepala calon baptis yang berdiri diri di kolam, berganti menjadi menyelamkan bayi itu ke kolam dengan tangan. Pada mulanya di abad ke-5, cara tersebut dilihat lebih sederhana, ketimbang cara dewasa tadi.[27]</p>
<p>Adanya baptisan anak membuat pemisahan sakramen: dari satu sakramen menjadi dua dan tiga sakramen: baptisan, sidi, dan perjamuan kudus. Umumnya, sidi dilakukan lama setelah seorang anak (atau bayi) dibaptis. Hanya sebentar dalam sejarah gereja abad ke-13 dan ke-14 sidi dilakukan sesegera mungkin setelah baptisan anak, yakni usia 1-2 tahun. Namun segera pula dihapuskan, sebab pencurahan karunia Roh Kudus – kemudian pencurahan Roh Kudus dihubungkan dengan pemberian tujuh karunia (Yes 11: hikmat, pengertian, nasihat, keperkasaan, pengetahuan, kesetiaan, dan takut akan Tuhan) – justru harus disampaikan kepada seseorang yang telah mengerti.[28] Artinya, setelah seseorang menjadi agak dewasa, sekitar 8 tahun atau bahkan lebih.</p>
<p>Hingga kini, praktek baptisan anak masih menjadi polemik teologis, termasuk di kalangan Protestan. Sejauh ini polemik besar tersebut dianggap tidak ada, sebagaimana praktek dan teologi peneguhan sidi, sekalipun praktek kedua ritus ini telah berlangsung sangat lama dan dinilai penting.[29] Itulah sebab, tulisan-tulisan mengenai kedua hal tersebut masih sangat sedikit jumlahnya.</p>
<p>GKI telah lama mempraktekkan baptisan anak. Dasarnya (TALAK GKI Pasal 23): 1) perjanjian anugerah Allah; 2) pengakuan percaya orangtuanya.[30] Dasar 1) dapat disejajarkan dengan penghapusan dosa warisan sebagaimana pernah dipahami dalam sejarah gereja. Dasar 2) agak bersifat “salah tempat” karena terlalu tidak fundamental sebagai dasar baptisan; mana mungkin dasar seseorang menjadi Kristen hanya karena ia lahir dalam keluarga Kristen. Dasar 2) tersebut sebaiknya ditempatkan secara tersendiri.</p>
<p><strong>Perjamuan kudus di Indonesia: layakkah anak menerimanya?</strong></p>
<p>Jelas, praktek perjamuan kudus dewasa kini tidak lagi sama dengan praktek perjamuan kudus pada zaman Patristik, di mana perjamuan kudus dirayakan berbarengan setelah baptisan dan peneguhan sidi. Oleh karena itu kita menemukan pergumulan tersendiri ketika berhadapan dengan boleh tidaknya seseorang yang telah baptis anak tetapi belum sidi, ikut mengambil bagian dalam perjamuan kudus. Tanpa mengalami proses sejarah gereja masa lalu – begitu lahir kita telah mengalami sendiri baptisan anak dan sidi – setahu kita ketiga ritus tersebut memang terpisah “dari sononya”. Di Indonesia (bahkan di Asia), sejak pertama kali diadakan perjamuan kudus pada 3 Januari 1621 di Batavia, pemisahan sakramen-sakramen justru telah lazim dilakukan.[31] Selama hampir 40 tahun saya menjadi anggota jemaat, tidak pernah saya menyaksikan langsung pelayanan baptisan, peneguhan sidi, dan perjamuan kudus dilakukan bersamaan (kecuali kebaktian yang saya pimpin 4-5 tahun terakhir). Bahkan sebagian Majelis Jemaat bersikap tidak ingin menyelenggarakan baptisan dan perjamuan kudus bersamaan. Hal inilah yang – menurut hemat saya – menutup sikap jemaat untuk melihat adanya kemungkinan perjamuan kudus dirayakan langsung setelah baptisan dan peneguhan sidi, dan bahwa ritus-ritus tersebut asalnya memang satu ritus inisiasi.</p>
<p>Bagaimana menurut Tata Laksana Gereja Kristen Indonesia? Mudah-mudahan bukan “salah nulis” bahwa Talak BAB VIII menulis SAKRAMEN, bukan SAKRAMEN-SAKRAMEN; pasal 21 menulis: “Sakramen yang diakui dan dilaksanakan oleh GKI adalah baptisan kudus dan perjamuan kudus”, bukan “Sakramen-sakramen yang diakui …”.[32] Dengan demikian ada kesadaran bahwa GKI memandang kesatuan sakramen antara baptisan dan perjamuan kudus, walaupun tidak merupakan kesatuan sakramen dengan peneguhan sidi – berdasarkan Pasal 20:i.[33]</p>
<p>Layak tidaknya seseorang menerima perjamuan kudus, tidak lagi menjadi polemik sejauh orang itu adalah anggota jemaat, tidak dalam penggembalaan khusus, dan telah dibaptis. Namun, bagaimana dengan seorang anak yang telah dibaptis, dan belum sidi. Apakah ia boleh mengambil bagian perjamuan kudus?</p>
<p>Sebagaimana pemisahan sakramen-sakramen, komuni pertama bukan hal baru dalam Gereja Reformasi. Luther mempertahankan kebiasaan Gereja Abad-abad Pertengahan untuk melayankan perjamuan kudus bagi anak dengan suatu upacara yang sekalipun bukan sakramen tetapi khidmat: peneguhan sidi. Bahkan Calvin mengatur suatu upacara dan persiapan khusus sedemikian rupa – misalnya dengan memberi pengumuman satu minggu sebelum perjamuan kudus – agar anak dapat ikut perjamuan kudus.[34]</p>
<p>Memang zaman selalu berubah, demikian pula praktek teologi. Dewasa ini kita berada di zaman oikumenis, di mana Gereja yang oikumenis adalah Gereja yang tidak tersendiri karena selalu ingin berbeda dari yang lain. Sejalan dengan gerakan oikumenis, sebaiknya Gereja-gereja Protestan di Indonesia mulai merefleksi bahwa apabila bisa saling menerima baptisan masing-masing, maka juga dapat terbuka dalam merayakan perjamuan kudus. Keterbukaan bukan hanya melibatkan sebanyak mungkin denominasi, tetapi juga usia dan generasi. Dengan demikian oikumenisitas Gereja menjadi lebih nyata melalui perayaan inisiasi.</p>
<p><strong>Catatan-catatan</strong></p>
<p>[1] Lihat uraian C. Groenen: Sakramen-sakramen Inisiasi Kristen: Baptisan dan Krisma, J.B. Banawiratma (editor), Baptis, Krisma, Ekaristi. Kanisius 1989, 77-79.<br />
[2] Ibid., 88.<br />
[3] Diterjemahkan dari Kenan B. Osborne, The Christian Sacraments of Initiation: Baptism, Confirmation, Eucharist. Paulist, 63, berdasarkan naskah Didakhe.<br />
[4] Groenen, dalam Banawiratma (ed), 90-91.<br />
[5] Dom Gregory Dix, The Theology of Confirmation in Relation to Baptism. Westminster, 12-13. Penomoran 1] dan 2] oleh penulis.<br />
[6] Ibid., 21.<br />
[7] Sejauh ini, pendapat adanya baptisan anak di zaman Perjanjian Baru merupakan perkiraan, yang tidak didukung oleh bukti eksplisit. Perkiraan yang digunakan biasanya adalah jeneralisasi baptisan seisi rumah tangga (Kis 10; 16:15; 16:25-34; 1Kor 1:16; 16:15), baptisan massal di zaman para Rasul (Kis 2:41; 8;12), dan Yesus memberkati anak-anak (Mat 19:13-15). Bnd. Paul K. Jewett, Infant Baptism and The Covenant of Grace. Eerdmans 1978, 47-50.<br />
[8] Kasus di Gereja Timur berbeda dengan Gereja Barat: air baptisan yang telah diberkati (konsekrasi) sebelumnya telah mengandung Roh Kudus di dalamnya. Oleh sebab itu pemisahan sakramen-sakramen hanya terjadi di Gereja-gereja Barat.<br />
[9] Osborne, 114-115.<br />
[10] Bnd. Christiaan de Jonge, Apa Itu Calvinisme? BPK GM, 228-229.<br />
[11] Joseph Martos, Doors to the Sacred: A Historical Introduction to Sacraments in the Catholic Church. New York, 209-210, menunjukkan perbedaan cara masing-masing di Yerusalem, Konstantinopel, Aleksandria, dan Karthago.<br />
[12] Ibid., 211-212, berdasarkan Konsili Arles (314): seseorang yang pernah menjadi bidat tidak perlu dibaptis ulang, tetapi harus menerima penumpangan tangan kedua untuk pencurahan kembali Roh Kudus yang pernah hilang darinya pada waktu menjadi bidat.<br />
[13] Misal: Groenen, dalam Banawiratma, 104-110; Nueheuser dan A.Benning, sebagaimana dicatat Osborne, 118.<br />
[14] Osborne, 117-118, mengutip B. Neunheuser.<br />
[15] Misal: Regli, sebagaimana dicatat Osborne, ibid.,118.<br />
[16] Ibid., 118-119.<br />
[17] De Jonge, 236.<br />
[18] Ibid., 238.<br />
[19] Ibid., 239.<br />
[20] Ibid., 240.<br />
[21] Ibid., 241.<br />
[22] Badan Pekerja Majelis Sinode Gereja Kristen Indonesia, Tata Gereja Gereja Kristen Indonesia. Jakarta 2003, 50, 55.<br />
[23] DI GKI Jabar, TATA TERTIB terakhir mensyaratkan calon baptis adalah minimal 16 tahun. Sebelumnya, usia calon baptis ditetapkan 14 tahun.<br />
[24] Martos, 174-175.<br />
[25] Jewett, 55-56.<br />
[26] Martos, 176-177.<br />
[27] Ibid., 177-178.<br />
[28] Ibid., 220-221. Usia untuk sidi berubah-ubah sejak Abad-abad Pertengahan hingga kini, yakni berkisar antara 7-10 tahun, 8-14 tahun, dan 10-17 tahun, Namun perubahan yang mencolok adalah keikutsertaan anak dalam perjamuan kudus pertama; kadang sebelum sidi, kadang setelah sidi.<br />
[29] Ibid., 216-217: sejak awal Abad-abad Pertengahan, baptisan anak dan peneguhan sidi telah dimasukkan ke dalam Buku-buku Liturgi Gereja Barat, telah pengaturan petugas yang bukan Uskup untuk memberikan perminyakan bagi katekumen yang sekarat, pemberkatan minyak krisma, dsb. De Jonge, 2020-203: Calvin tidak bersetuju menyelenggarakan baptisan anak dalam keadaan sekarat.<br />
[30] Badan Pekerja Majelis Sinode Gereja Kristen Indonesia, 52.<br />
[31] De Jonge, 233-234. Tentang latar belakang terjadi pemisahan sakramen-sakramen, lihat I.H. Enklaar, Baptisan Massal dan Pemisahan Sakramen-sakramen. BPK 1978. Terjadinya pemisahan tersebut adalah akibatnya banyaknya jumlah umat dan sedikitnya jumlah Imam yang mampu melayankan perjamuan kudus. Sementara pembaptisan dilakukan oleh siapa pun – sekalipun bukan Pastor atau Pendeta – sehingga diragukan kualitas pengetahuan dan kesiapannya sebagai Kristen, sementara perjamuan kudus hanya harus dilayankan oleh Imam.<br />
[32] Badan Pekerja Majelis Sinode Gereja Kristen Indonesia, 49.<br />
[33] Ibid., 49.<br />
[34] De Jonge, 238-239.</p>
<p>Penulis: Rasid Rachman</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.oyr79.com/magen/baptisan-dan-peneguhan-sidi-dan-perjamuan-kudus/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Kelirumologi dalam Liturgi</title>
		<link>http://www.oyr79.com/magen/kelirumologi-dalam-liturgi/</link>
		<comments>http://www.oyr79.com/magen/kelirumologi-dalam-liturgi/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 08 Mar 2008 09:46:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rabbi</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Liturgika]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.oyr79.com/magen/kelirumologi-dalam-liturgi/</guid>
		<description><![CDATA[Awal April lalu, ada kuis di salah satu TV. Yang menjadi salah satu pertanyaan: “apakah hari pertama dalam sepekan.” Jawaban yang disediakan adalah “Senin” dan “Rabu”. Jawaban yang dibenarkan adalah “Senin”. Menurut saya, ini keliru, seharusnya hari pertama adalah Minggu.
Kelirumologi, digulirkan oleh Jaya Suprana beberapa tahun lalu, telah menguak kesadaran kita akan banyaknya kekeliruan yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Awal April lalu, ada kuis di salah satu TV. Yang menjadi salah satu pertanyaan: “apakah hari pertama dalam sepekan.” Jawaban yang disediakan adalah “Senin” dan “Rabu”. Jawaban yang dibenarkan adalah “Senin”. Menurut saya, ini keliru, seharusnya hari pertama adalah Minggu.<span id="more-21"></span></p>
<p>Kelirumologi, digulirkan oleh Jaya Suprana beberapa tahun lalu, telah menguak kesadaran kita akan banyaknya kekeliruan yang lazim dilakukan oleh manusia. Oleh karena lazim keliru, maka yang keliru itu kemudian yang dianggap benar. Kelirumologi bukan hanya terjadi dalam kehidupan sosial dan sehari-hari, tetapi juga merambah ke dalam gereja.</p>
<p>Satu kata yang cukup sering dan biasa digunakan di dalam gereja, cukup sering disalahartikan dan keliru dipahami adalah liturgi. Ada yang menganggap liturgi adalah (hanya) tata ibadah, ada yang menyamakannya dengan urutan ibadah seperti halnya urutan acara. Ada yang mengartikanya dengan para petugas ibadah, atau hanya kertas (yang dipakai untuk) ibadah. Membuntuti kekeliruan tersebut, mucullah kerancuan dalam pemakaian, misalnya jemaat lazim menyebut “liturgi ibadah hari Minggu,” atau “liturgi kebaktian Paska,” dsb. Kekeliruan ini cukup lazim tersurat dan tersirat, baik di kalangan umat maupun Pendeta.</p>
<p>Bukan hanya itu. Salah arti dan kekeliruan juga terjadi terhadap unsur-unsur liturgi. <em>Introitus</em>, <em>votum</em>, salam, doa syafaat, komuni, adalah sebagian dari unsur-unsur yang biasa keliru dipahami. Umat keliru memahaminya bukan hanya pada mengartikan istilahnya, tetapi juga memahaminya. Kekeliruan tersebut menyebabkan pula kekeliruan dalam pemakaian dan penempatannya dalam perayaan liturgi.</p>
<p>Ironisnya, hal ini masih terjadi setelah hampir 72 tahun STT Jakarta berdiri, rata-rata 60 tahunan Sinode-sinode Protestan Indonesia berdiri, dan seratus tahun lebih Jemaat atau Gereja-gereja Protestan di Indonesia eksis di bumi Nusantara. Umur liturgi di Indonesia kira-kira sama dengan umur Gereja-gereja Protestan di Indonesia.</p>
<p><strong>Etimologi</strong></p>
<p>Liturgi berasal dari kata-kata bahasa asing yang kemudian diindonesiakan. Kata-kata asing tersebut berasal dari bahasa Yunani: <em>leitourgia</em> (<em>laos</em> + <em>ergon</em>), <em>synaxis</em> (<em>syn</em> + <em>axis</em>), <em>eucharistia</em> (<em>eu</em> + <em>charis</em>); Latin: <em>officium</em>, <em>servire</em>, <em>missa</em>; Ibrani: <em>avodah</em>; Sansekerta: <em>bhakti</em>; dan Inggris: <em>worthyship</em>. Dalam bahasa Jerman atau Belanda, liturgi disebut <em>Gottesdienst</em>, <em>dienst</em>. Semua kata tersebut menunjuk pada perayaan ibadah. Jadi tak perlu merancukan penggunaannya dalam penulisan biasa.</p>
<p>Hingga kini masih sering dijumpai kesalahan pemahaman yang terungkap dalam penulisan di judul kertas atau buku liturgi khusus atau di mana pun, misalnya: Liturgi Ibadah Minggu, Liturgi Kebaktian Natal, dsb. Oleh karena artinya sama, sewajarnyalah kekeliruan kecil tersebut dihentikan. Cukuplah menulis Liturgi Paska, Kebaktian Minggu, Ibadah Natal pada Buku-buku atau lembar liturgi kita.</p>
<p>Setelah pemahaman etimologi, kini pemahaman tentang liturgi itu sendiri. Seringkali jemaat dan Majelis Jemaat memahami bahwa liturgi adalah tata ibadah atau bahkan kertas ibadah. Ada pengertian umum bahwa Gereja “A” tidak memakai liturgi untuk ibadahnya, sedangkan Gereja “B” memakainya. Pengertian tersebut perlu diluruskan. Liturgi bukan hanya tata ibadah, melainkan seluruh perayaan ibadah adalah liturgi. Oleh karena itu, melaksanakan liturgi adalah menyiapkan seluruh pernak-pernik yang terlibat di dalam perayaan liturgi itu, semisal: tata waktu, tata musik, tata bacaan, tata ruang, tata ornamentasi, tata furnitur, tata busana, tata gerak, dsb.</p>
<p><strong>Unsur-unsur dan pemahaman teologinya</strong></p>
<p><em>Introitus</em> adalah prosesi atau perarakan masuk. Umat Israel melakukan perarakan menuju tanah perjanjian. Gereja secara ekumenis berarakan menuju Kristus (bnd Yeh 47:1) laksana bahtera (<em>naos</em>) yang masih berlayar menuju pelabuhan abadi. Dalam liturgi, prosesi dalam ibadah biasanya dilakukan dari pintu utama menuju altar dan mimbar. Bagus, apabila umat ikut dalam introitus tersebut, sekalipun tidak praktis.</p>
<p>Dewasa ini, beberapa Jemaat agak sungkan melakukan prosesi pada awal ibadah. Biasanya prosesi atau <em>introitus</em> dihapus dan diganti dengan penyerahan Alkitab. Ini hanya dilakukan oleh beberapa petugas liturgi saja. Padahal, sebagai pembuka ibadah, prosesi merupakan kunci kekhidmatan seluruh liturgi. Prosesi adalah laksana sampul depan sebuah buku atau majalah; ia memberi kesan khidmat, agung, indah, dan hormat.</p>
<p><em>Votum</em> adalah pernyataan “dalam nama” sebagaimana Kolose 3:17. <em>Votum</em> adalah kata bahasa Latin. Istilah ini pun tidak lazim digunakan dalam perayaan ibadah ekumenis. <em>Votum</em> muncul dalam tradisi monastik (Benediktin) untuk ucapan <em>kaul rahib/rubiah</em>. </p>
<p>Sejumlah keterangan dan informasi tentang <em>votum</em>, yang paling gamblang menyatakan bahwa <em>votum</em> adalah <em>bismilah</em>. Dalam prakteknya, <em>votum</em> bukan hanya digunakan di awal ibadah, sehingga seolah-olah <em>votum</em>-lah yang mensahkan sebuah ibadah. Dalam pemahaman “dalam nama” tersebut, <em>votum</em> diucapkan pula di akhir doa, bersama dengan pembaptisan atau penahbisan, dsb. Oleh karena itu, <em>votum</em> dapat diucapkan oleh umat yang beribadah, atau dijawab dengan “amin.”</p>
<p>Dalam praktek, beberapa gereja masih menjadikan <em>votum</em> laksana mantra kebaktian, sehingga hanya boleh diucapkan oleh Pendeta. Praktek ini merupakan kekeliruan dari kaul kerahiban menjadi ucapan “dalam nama”, sehingga <em>votum</em> menjadi mantra. Padahal <em>votum</em> sangat biasa, namun memang harus hormat mengucapkannya.</p>
<p>Salam, sebagaimana <em>assalamalaikum</em> (damai bagimu) dalam Islam, merupakan sapaan: “Salam sejahtera, Tuhan besertamu” (<em>vobiscum Dominum</em>, <em>Lord be with you</em>) yang diucapkan oleh seseorang yang hendak berbicara kepada seseorang (orang-orang) lain dalam suatu pertemuan. Jadi salam tersebut adalah salam antar manusia. Sehingga menjadi tidak komunikatif kalau pengucapannya dibuat begitu rupa sehingga nampaknya salam itu adalah salam dari Tuhan kepada jemaat. </p>
<p>Oleh karenanya, tata gerak angkat tangan dalam salam adalah bukan penahbisan; siapa pun yang mengucapkan salam, ia memberikan tanda tersebut. Juga tidak wajar apabila salam tersebut dibalas dengan (nyanyian) ”Amin”. Sebab tidak ada orang yang membalas sapaan salam dari temannya dengan amin atau “ya”, melainkan dengan salam pula (<em>alaikum salam</em>, <em>et cum spiritu tuo</em>, and <em>also with you</em>, dan besertamu juga). Atau, juga akan menjadi kaku jika pengucapan salam hanya dibatasi di depan atau hanya diucapkan oleh Pelayan Firman (apalagi hanya Pendeta), sebab – belajar dari Islam – siapa pun yang hendak bicara (tidak harus di awal pertemuan!) di depan umum, baik Pendeta maupun bukan, mengucapkan salam lebih dahulu.</p>
<p>Doa syafaat adalah doa yang ditempatkan antara pelayanan Firman dan pelayanan meja. Dasarnya, kata syafaat berasal dari bahasa Arab atau Ibrani: <em>syofet</em>, artinya perantara (LAI: Hakim; Ing: <em>intercessions</em>). Oleh karena tidak memahami artinya, beberapa Gereja masih bersilang pendapat dengan syafaat, yang berdampak pada penempatannya dan isinya yang tidak jelas salam.</p>
<p>Doa syafaatlah yang memberikan bobot setiap ritus ibadah bahwa antara khotbah di mimbar dan persembahan di meja terdapat hubungan sebab akibat. Dengan demikian isi doa syafaat bukan melulu doa-doa ucapan syukur atau ulang tahun anggota jemaat, tetapi menggambarkan pergumulan dan keprihatinan gereja terhadap dunia.</p>
<p>Tempat doa syafaat pun tidak perlu lagi diperdebatkan berdasarkan selera pribadi atau sekadar keputusan sidang sinode. Menilik namanya: <em>intercessions</em> atau perantara, doa syafaat berada antara mimbar di mana dilayankan Firman Tuhan dan altar di mana dilayankan persembahan. Jadi, yang diberitakan itulah diwujudkan dalam bentuk pelayanan meja.</p>
<p><em>Komuni</em> dalam liturgi Protestan seringkali tidak disebut, namun diganti dengan makan roti dan minum anggur. Padahal makan dan minum dalam perjamuan kudus bukan sekadar makan dan minum; ia adalah <em>komuni</em>. Komuni (<em>communio</em> = persekutuan, kebersamaan) adalah puncak perayaan perjamuan kudus yang di dalamnya tergambar persekutuan umat di sekitar meja.</p>
<p><strong>Instruksi verbal</strong></p>
<p>Para pemimpin ibadah di Gereja-gereja Protestan di Indonesia kerap menyertakan instruksi liturgis secara verbal. Misal, sebelum pengakuan iman, pemimpin ibadah mengucapkan: “Marilah kita berdiri.” Atau, setelah salam, pemimpin ibadah menyilakan jemaat duduk kembali. Atau, instruksi informatif untuk menyanyi dari nomor sekian bait ini-itu. Seolah-olah instruksi verbal merupakan “bagian integral” dari peribadahan.</p>
<p>Apakah memang begitu aturannya? Tidak adakah cara lain untuk memberikan instruksi kecuali secara verbal?</p>
<p>Duduk dan berdiri termasuk dalam kategori tata gerak liturgi. Tata gerak umumnya berfungsi sebagai tanda, namun ada kalanya berfungsi sebagai simbol. Duduk adalah tanda mendengarkan, berdiri adalah tanda bersiap dan menyambut. Ada kalanya, karena alasan praktis, berdiri menandakan juga berprosesi atau berjalan. Oleh karena berprosesi atau berjalan tidak mungkin dilakukan oleh seluruh umat, maka demi praktisnya prosesi dilakukan hanya oleh beberapa petugas, sedangkan umat cukup berdiri.</p>
<p>Sebaiknya instruksi berdiri atau duduk tidak mutlak diberlakukan. Hal meminimalkan instruksi verbal akan mengesankan bahwa isi liturgi bukan perintah, melainkan perayaan.<br />
Instruksi dalam nyanyian tidak perlu berlebihan, terutama dalam menyebutkan bait-bait (bukan ayat, ya!) nyanyian yang bersangkutan, karena daftar tersebut sudah tertulis di papan liturgi. Sebenarnya tanpa instruksi sekalipun, jemaat pasti tahu nyanyian yang akan dinyanyikan saat itu. Demikian pula instruksi setelah nyanyian, sering menimbulkan ketidakrapihan nyanyian itu sendiri. Ada kalanya <em>fine</em> atau akhir sebuah nyanyian adalah panjang (3-4 ketuk). Maka instruksi verbal – seandainya ingin digunakan – hendaknya disampaikan setelah nyanyian itu betul-betul selesai; jangan terburu-buru sehingga instruksi disampaikan sebelum nyanyian selesai.</p>
<p>Jika masih diperlukan, maka Penatua atau pelayan liturgi dapat menggunakan instruksi non-verbal, semisal tangan (untuk berdiri), intro musik (untuk nyanyian), mengikuti contoh para pelayan liturgi (untuk duduk-berdiri, dsb.), dan sebagainya. Instruksi non-verbal tersebut selain dapat mengurangi verbalisme dalam liturgi, juga mendewasakan kecerdasan jemaat dalam beribadah. Pendewasaan kecerdasan jemaat akan tercapai apabila liturgi dihayati dan dirayakan sebagai respons umat atau perayaan iman kepada karunia Tuhan. Dalam beberapa kesempatan sebenarnya instruksi verbal dan bahkan non-verbal tidak diperlukan lagi.</p>
<p><strong>Penutup</strong></p>
<p>Liturgi adalah teologi yang dirayakan. Sebagai perayaan, keindahan dan keagungan dapat mengalahkan peraturan. Oleh karena itu jangan terlalu terikat pada aturan dalam menyelenggarakan ibadah.</p>
<p>Penulis: Rasid Rachman</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.oyr79.com/magen/kelirumologi-dalam-liturgi/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Injil Thomas</title>
		<link>http://www.oyr79.com/magen/injil-thomas/</link>
		<comments>http://www.oyr79.com/magen/injil-thomas/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 08 Jan 2008 01:50:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rabbi</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Alkitab]]></category>

		<category><![CDATA[Kristologi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.oyr79.com/magen/injil-thomas/</guid>
		<description><![CDATA[Inilah ucapan-ucapan tersembunyi yang Yesus yang hidup katakan dan
Yudas Thomas si Kembar (= Didymus) mencatatnya.
(1) Dan dia berkata, “Barangsiapa menemukan penafsiran atas ucapan-ucapan ini, ia tidak akan mengecap kematian.” (Bdk Yoh 8:51-52)
(2) Yesus berkata, “Barangsiapa mencari, janganlah berhenti mencari sampai ia menemukan. (Bdk Injil Thomas 92; 94) Ketika ia menemukannya, ia akan susah hati. Ketika [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Inilah ucapan-ucapan tersembunyi yang Yesus yang hidup katakan dan<br />
Yudas Thomas si Kembar (= Didymus) mencatatnya.<span id="more-19"></span></p>
<p>(1) Dan dia berkata, “Barangsiapa menemukan penafsiran atas ucapan-ucapan ini, ia tidak akan mengecap kematian.” (Bdk Yoh 8:51-52)</p>
<p>(2) Yesus berkata, “Barangsiapa mencari, janganlah berhenti mencari sampai ia menemukan. (Bdk Injil Thomas 92; 94) Ketika ia menemukannya, ia akan susah hati. Ketika ia susah hati, ia akan terpana dan akan berkuasa atas segalanya.” (Papyrus Oxyrhynchus 654.8-9 menambahkan “dan [setelah berkuasa atas segalanya], ia akan beristirahat.”) (Bdk Mat 7:7-8; Luk 11:9-10)</p>
<p>(3) Yesus berkata, “Jika para pemimpinmu berkata, ‘Lihatlah, kerajaan itu ada di sorga,’ maka burung-burung di udara akan mendahului kamu. Jika mereka mengatakan, ‘Kerajaan itu ada di laut’, maka ikan-ikan akan mendahului kamu. Sesungguhnya, kerajaan itu ada di dalam dan di luar kamu. (Bdk Luk 17:20-21) Pada saat kamu mengenal dirimu sendiri, maka kamu akan dikenal, dan kamu akan mengetahui bahwa kamu adalah anak-anak dari Bapa yang hidup. Tetapi jika kamu tidak mengenal dirimu sendiri, kamu hidup di dalam kemiskinan dan kamu sendiri kemiskinan itu.” (Bdk Gal 4:8-9; 1 Kor 8:1-3; 13:12)</p>
<p>(4) Yesus berkata, “Seorang yang lanjut usianya tidak akan ragu bertanya kepada bayi berusia tujuh hari mengenai tempat kehidupan, dan orang itu akan hidup. Sebab banyak yang pertama akan menjadi yang terakhir (Bdk Mat 20:16; Luk 13:30; Mat 19:30; Mrk 10:31) dan mereka akan menjadi satu tunggal.”</p>
<p>(5) Yesus berkata, “Kenalilah apa yang ada di hadapan wajahmu, dan apa yang tersembunyi darimu akan dinyatakan kepadamu. Sebab tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi tidak akan dinyatakan.” (Bdk Mrk 4:22; Luk 8:17; Mat 10:26; Luk 12:2)</p>
<p>(6) Murid-muridnya bertanya kepadanya, “Apakah Engkau ingin kami berpuasa? Bagaimanakah kami harus berdoa? Haruskah kami memberi sedekah? Pantangan apakah yang harus kami perhatikan?” (Bdk Mat 6:1-18) Yesus menjawab, “Jangan berdusta dan jangan melakukan apa yang kamu benci, sebab segala sesuatu disingkap di hadapan sorga. Sebab tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi yang tidak akan dinyatakan, (Bdk Injil Thomas 5:2) dan tidak ada sesuatu pun yang tertutup yang dibiarkan tetap tertutup.”</p>
<p>(7) Yesus berkata, “Diberkatilah singa yang akan dimakan manusia, sehingga sang singa itu akan menjadi manusia. Terkutuklah manusia yang akan dimakan singa itu, dan singa itu akan menjadi manusia.”</p>
<p>(8) Dan dia berkata, “Manusia itu seperti seorang penjala ikan yang bijaksana yang menebar jalanya ke laut. Ketika ia mengangkat jalanya dari laut, jala itu penuh dengan ikan kecil. Di antara ikan-ikan kecil itu, penjala itu menemukan seekor ikan yang besar dan baik. Maka dilemparkannya semua ikan kecil itu kembali ke laut dan ia memilih ikan besar itu tanpa kesulitan. Barangsiapa bertelinga untuk mendengar, hendaklah ia mendengar.” (Bdk Mat 13:47-50)</p>
<p>(9) Yesus berkata, “Lihatlah, seorang penabur pergi keluar, memenuhi tangannya dengan benih, lalu menyerakkannya. Sebagian benih jatuh di jalan; burung-burung datang, membawanya terbang. Sebagian lagi jatuh di tanah berbatu-batu, tidak berakar di tanah dan tidak menghasilkan bulir-bulir gandum. Sebagian lainnya jatuh di antara semak-semak duri; semak-semak duri itu menggencetnya dan cacing-cacing memakannya. Tetapi sebagian lainnya jatuh di tanah yang baik dan menghasilkan buah yang baik. Ada yang menghasilkan enam puluh per petak, dan ada yang seratus dua puluh per petak.” (Bdk Mat 13:3-9; Mrk 4:2-9; Luk 8:4-8)</p>
<p>(10) Yesus berkata, “Aku telah melemparkan api ke bumi dan, lihatlah, aku menjaganya sampai api itu bernyala besar.” (Bdk Luk 12:49)</p>
<p>(11) Yesus berkata, “Langit akan berlalu dan apa yang ada di atasnya akan lenyap. (Bdk Mat 24:35; Mrk 13:31; Luk 21:33; Mat 5:18; Luk 16:17) Yang mati tidak hidup dan yang hidup tidak mati. Pada waktu kalian memakan apa yang mati, maka kalian akan membuatnya hidup. Apabila kalian berada di dalam terang, apa yang akan kalian perbuat? Ketika kalian tunggal, kalian menjadi dua. Tetapi ketika kalian menjadi dua, apa yang akan kalian kerjakan?”</p>
<p>(12) Murid-murid berkata kepada Yesus, “Kami tahu engkau akan meninggalkan kami. Lalu, siapakah yang akan menjadi pemimpin kami?” Yesus berkata kepada mereka, “Tidak peduli dari manapun kalian berasal, kalian pergilah kepada Yakobus Yang Adil. Langit dan bumi diciptakan untuknya.”</p>
<p>(13) Yesus berkata kepada murid-murid-Nya, “Bandingkan aku dengan sesuatu<br />
dan katakan kepadaku seperti apakah aku.” Simon Petrus berkata kepadanya, “Engkau seperti seorang bentara yang adil.” Matius berkata kepadanya, “Engkau seperti seorang filsuf yang bijaksana.” Thomas berkata kepadanya, “Guru, mulutku sama sekali tidak sanggup mengatakan seperti apa engkau.” Yesus berkata, “Aku bukanlah gurumu. Karena kamu telah mabuk, mabuk oleh pancaran air berbuih-buih yang aku telah takarkan.” Lalu ia membawa Thomas, memisahkannya dari yang lain, dan menyampaikan tiga kata kepadanya.<br />
Ketika Thomas kembali kepada murid-murid lainnya, mereka bertanya, “Apa yang Yesus telah katakan kepadamu?” Thomas berkata kepada mereka, “Jika aku beritahukan satu saja dari kata-kata yang ia telah sampaikan kepadaku, maka kalian akan memungut batu dan melemparkannya kepadaku. Dan api akan muncul dari batu-batu itu dan membakar habis kalian.”</p>
<p>(14) Yesus berkata kepada mereka, “Jika kalian berpuasa, kalian akan mendatangkan dosa kepada diri kalian sendiri. Dan jika kalian berdoa, kalian akan menghukum diri kalian sendiri, dan jika kalian memberi sedekah, kalian akan melakukan yang jahat terhadap roh kalian sendiri.” “Pada waktu kalian masuk ke suatu negeri dan mendatangi kampung-kampungnya, jika mereka menerima kalian, makanlah apa pun yang mereka suguhkan kepada kalian. Sembuhkan yang sakit di antara mereka. (Bdk Mat 10:8; Luk 10:8-9; 1 Kor 10:27) Sebab apa yang masuk ke dalam mulutmu tidak akan menajiskan dirimu, tetapi apa yang keluar dari mulutmu akan menajiskan dirimu.” (Bdk Mat 15:11; Mrk 7:15)</p>
<p>(15) Yesus berkata, “Pada waktu kalian melihat dia yang tidak lahir dari seorang perempuan, tundukkan wajahmu dan sembahlah dia. Dialah bapamu.” (Bdk Yoh 10:30)</p>
<p>(16) Yesus berkata, “Orang mengira aku telah datang untuk membawa damai di bumi, tetapi mereka tidak tahu bahwa aku telah datang membawa pertentangan di bumi ini: api, pedang, perang. Sebab akan ada lima orang di sebuah rumah: tiga akan melawan dua dan dua akan melawan tiga, ayah melawan anak laki-laki, dan anak laki-laki akan melawan ayahnya;dan mereka akan berdiri sendirian.” (Bdk Mat 10:34-36; Luk 12:49, 50, 51-53)</p>
<p>(17) Yesus berkata, “Aku akan memberikan kepadamu apa yang mata belum pernah lihat, apa yang telinga belum dengar dan tangan belum sentuh, dan apa yang tidak muncul dalam hati manusia.” (Bdk 1 Kor 2:9; Yes 64:4)</p>
<p>(18) Murid-muridnya berkata kepada Yesus, “Katakan kepada kami bagaimana akhir kami.” (Bdk Mat 24:3; Mrk 13:3-4; Luk 21:7) Yesus menjawab, “Apakah kamu sudah menemukan awal, sehingga kamu mencari akhir? Di tempat dimana ada awal, di situ akan ada akhir. Diberkatilah orang yang berdiri di awal: ia akan mengetahui akhir dan tidak akan mengecap kematian.”</p>
<p>(19) Yesus berkata, “Diberkatilah dia yang telah ada sebelum dia diciptakan. Jika kamu menjadi murid-muridku dan mendengarkan kata-kataku, batu-batu ini akan melayani kamu. Sebab ada lima pohon di sorga yang tidak berubah di musim panas atau di musim dingin dan yang daun-daunnya tidak berguguran. Barangsiapa mengenal pohon-pohon itu, ia tidak akan mengecap kematian.”</p>
<p>(20) Murid-muridnya berkata kepada Yesus, “Katakanlah kepada kami, seperti apa<br />
kerajaan sorga itu?” Ia berkata kepada mereka, “Kerajaan sorga itu seumpama sebutir biji sesawi, paling kecil dari semua biji. Tetapi ketika jatuh ke tanah yang sudah disiapkan, ia menghasilkan suatu pohon besar dan menjadi suatu tempat berlindung bagi burung-burung di angkasa.” (Bdk Mat 13:31-32; Luk 13:18-19; Mrk 4:30-32)</p>
<p>(21) Maria berkata kepada Yesus, “Seperti apakah murid-muridmu itu?” Ia berkata, “Mereka itu seperti anak-anak kecil yang tinggal di suatu padang yang bukan milik mereka. Ketika pemilik-pemilik padang itu datang, mereka akan berkata, ‘Berikan kepada kami tanah padang kami.’ Murid-murid itu melepaskan pakaian mereka di hadapan para pemilik padang itu lalu menyerahkannya kepada mereka, dan mereka mengembalikan tanah padang itu kepada mereka. (Bdk Injil Thomas 37) Karena itu, aku berkata, jika si pemilik rumah tahu kapan pencuri akan datang, ia tentu akan tetap berjaga sebelum pencuri itu datang dan tidak akan membiarkan si pencuri mendobrak, masuk ke rumah lalu mengambil barang-barang. (Bdk Injil Thomas 103; Mat 24:43; Luk 12:39) Jadi, kamu harus berjaga-jaga terhadap dunia. Persenjatai dirimu dengan kekuatan besar, supaya para perampok tidak mendapat jalan untuk mendatangi dirimu, sebab kesulitan yang kamu nanti-nantikan itu akan datang. Hendaklah ada di antaramu seorang yang mengerti. Pada waktu panen tiba, si pemilik datang segera dengan ani-ani di tangannya dan menuai hasil sawahnya. (Bdk Mrk 4:29; Yoel 3:13) Barangsiapa bertelinga untuk mendengar, hendaklah ia mendengar.”</p>
<p>(22) Yesus melihat anak-anak kecil sedang menyusu, dan ia berkata kepada murid-muridnya, “Anak-anak yang sedang menyusu ini seperti orang-orang yang masuk ke dalam kerajaan.” Mereka bertanya kepadanya, “Jika kami anak-anak, akankah kami masuk ke dalam kerajaan?” Yesus berkata kepada mereka, “Pada waktu kamu membuat dua menjadi satu, dan pada waktu kamu membuat bagian dalam seperti bagian luar, dan bagian luar seperti bagian dalam, dan bagian atas seperti bagian bawah, dan ketika kamu membuat yang laki-laki dan yang perempuan menjadi satu tunggal sehingga yang laki-laki bukan lagi laki-laki dan yang perempuan bukan lagi perempuan, ketika kamu menjadikan mata menggantikan mata, tangan menggantikan tangan, kaki menggantikan kaki, dan sebuah gambar menggantikan sebuah gambar, maka kamu akan masuk ke dalam kerajaan.” (Bdk Gal 3:27-28; Injil Thomas 114)</p>
<p>(23) Yesus berkata, “Aku akan memilih kamu, satu dari antara seribu, dan dua dari antara sepuluh ribu, dan mereka akan berdiri sebagai satu tunggal.” (Bdk Ul 32:30; Pkh 7:28)</p>
<p>(24) Murid-muridnya berkata kepadanya, “Tunjukkan kepada kami tempat di mana engkau berada, sebab kami harus mencarinya.” Ia berkata kepada mereka, “Barangsiapa mempunyai telinga untuk mendengar, hendaklah ia mendengar. Ada terang di dalam seorang manusia terang dan terangnya ini menerangi seluruh dunia. Pada waktu terang tidak bercahaya lagi, maka di situlah kegelapan.” (Bdk Mat 6:22-23; Luk 11:34-35, 36)</p>
<p>(25) Yesus berkata, “Kasihilah saudaramu seperti jiwamu sendiri; jaga dan peliharalah ia seperti biji matamu.” (Bdk Mat 22:39; Mrk 12:31; Luk 10:27; Im 19:18)</p>
<p>(26) Yesus berkata, “Suban di mata saudaramu engkau lihat, tetapi balok di matamu sendiri tidak engkau lihat. Kalau engkau sudah mengeluarkan balok itu dari matamu sendiri, barulah engkau bisa melihat dengan jelas untuk mengeluarkan suban dari mata saudaramu itu.” (Bdk Mat 7:3-5; Luk 6:41-42)</p>
<p>(27) “Jika engkau tidak berpuasa dari dunia ini, maka engkau tidak akan menemukan kerajaan itu. Jika engkau tidak memelihara sabat sebagai suatu sabat, maka engkau tidak akan melihat sang bapa.”</p>
<p>(28) Yesus berkata, “Aku berdiri di tengah di dunia ini dan aku tampak oleh mereka di dalam daging. (Bdk Yoh 1:14; 1 Tim 3:16; Ams 1:20-33) Aku dapati mereka semuanya sedang mabuk, tetapi aku tidak menemukan satu pun dari antara mereka yang haus. Jiwaku rindu pada anak-anak manusia karena hati mereka buta dan mereka tidak melihat, sebab mereka datang tanpa membawa apa-apa ke dalam dunia; dan mereka juga berupaya untuk meninggalkan dunia ini tanpa membawa apapun. Adapun mereka itu mabuk. Pada saat mereka membuang anggur mereka, maka mereka akan bertobat.”</p>
<p>(29) Yesus berkata, “Jika daging ada karena roh, maka ini suatu keajaiban. Tetapi jika roh ada karena tubuh, ini adalah suatu keajaiban dari segala keajaiban. Aku terpana bagaimana kekayaan seagung itu telah tinggal dalam kemiskinan ini.” (Bdk Injil Thomas 7; 87; 112)</p>
<p>(30) Yesus berkata, “Di mana ada tiga Allah, mereka ilahi. Di mana ada dua atau satu, di situ aku berada bersama yang satu.”</p>
<p>(31) Yesus berkata, “Tidak ada nabi yang diterima di kampungnya sendiri; seorang tabib tidak menyembuhkan orang-orang yang mengenalnya.” (Bdk Mat 13:57; Mrk 6:4; Luk 4:23-24; Yoh 4:44)</p>
<p>(32) Yesus berkata, “Sebuah kota yang dibangun di atas bukit yang tinggi dan dibentengi, tidak dapat jatuh, juga tidak bisa tetap tersembunyi.” (Bdk Mat 5:14; 7:24-25; Luk 6:47-48)</p>
<p>(33) Yesus berkata, “Apa yang engkau akan dengar dengan telingamu, perdengarkan itu di telinga satunya lagi dari atap rumahmu. Sebab tidak ada orang yang menyalakan pelita lalu meletakkannya di bawah gantang, atau menempatkannya di suatu tempat tersembunyi. Melainkan, ia akan meletakkannya di atas kaki dian sehingga setiap orang yang keluar masuk dapat melihat terangnya.” (Bdk Mat 5:15; Luk 11:33; Mrk 4:21; Luk 8:16)</p>
<p>(34) Yesus berkata, “Jika seorang buta menuntun seorang buta, maka keduanya akan jatuh ke dalam sebuah lubang.” (Bdk Mat 15:14; Luk 6:39)</p>
<p>(35) Yesus berkata, “Kamu tidak dapat masuk ke rumah seorang kuat dan merebutnya dengan paksa jika tidak lebih dulu mengikat tangannya. Kalau tangan orang kuat itu sudah diikat, barulah kamu dapat menjarah rumahnya.” (Bdk Mat 12:29; Mrk 3:27; Luk 11:21-22)</p>
<p>(36) Yesus berkata, “Jangan kamu kuatir dari pagi sampai petang dan dari petang sampai pagi mengenai apa yang akan kamu pakai.” (Bdk Mat 6:25-33, 34; Luk 12:22-31, 32) (Versi Yunaninya, Oxyrhynchus Papyrus 655.1-17, berbunyi demikian: “Jangan kamu kuatir dari pagi sampai senja atau dari petang sampai pagi tentang makananmu, tentang apa yang akan kamu makan, atau tentang pakaianmu, tentang apa yang akan kamu pakai. Kamu jauh lebih baik dari bunga-bunga bakung yang tidak memintal dan juga tidak menenun. Jika kamu tidak mempunyai pakaian apapun, maka apa yang akan kamu kenakan? Siapa yang akan menambah tinggi tubuhmu? Ia akan memberikan kepadamu pakaianmu.”)</p>
<p>(37) Murid-muridnya berkata, “Kapan engkau akan tampak kepada kami dan kapan kami akan melihatmu?” Yesus berkata, “Pada waktu kamu menanggalkan pakaianmu tanpa merasa malu, dan mengambil pakaianmu dan meletakkannya di bawah kakimu seperti yang dilakukan kanak-kanak dan menginjak-injaknya, maka di saat itulah kamu akan melihat anak dari Dia Yang Hidup dan kamu tidak akan takut.” (Bdk Injil Thomas 21)</p>
<p>(38) Yesus berkata, “Banyak kali kamu ingin mendengar kata-kata ini, kata-kata yang aku sedang ucapkan kepadamu, dan tidak ada seorang lain pun yang darinya kamu akan mendengar kata-kata ini. Akan tiba saatnya ketika kamu mencari aku, kamu tidak akan menemukan aku.” (Bdk Mat 13:17; Luk 10:24; 17:22; Yoh 7:33-36; Ams 1:23-28)</p>
<p>(39) Yesus berkata, “Orang-orang Farisi dan para ahli kitab telah mengambil kunci-kunci pengetahuan, tetapi mereka menyembunyikan kunci-kunci itu. Mereka tidak masuk ke dalamnya, juga tidak mengizinkan orang lain yang ingin memasukinya. (Bdk Mat 23:13; Luk 11:52) Tetapi hendaklah kamu cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati!” (Bdk Mat 10:16)</p>
<p>(40) Yesus berkata, “Sebatang pohon anggur telah ditanam jauh dari sang Bapa. Karena pohon ini tidak kuat, maka ia akan dicabut sampai ke akar-akarnya lalu akan mati.” (Bdk Mat 15:13; Yoh 15:5-6; Yes 5:1-7; Injil Thomas 57; Mat 13:24-30)</p>
<p>(41) Yesus berkata, “Barangsiapa memiliki sesuatu di tangannya, maka kepadanya akan ditambahkan lagi. Barangsiapa tidak memiliki apa pun, maka yang paling kecil pun yang ada padanya akan diambil.” (Bdk Mat 13:12; Mrk 4:24-25; Luk 8:18; Mat 25:29; Luk 19:26)</p>
<p>(42) Yesus berkata, “Jadilah musafir.”</p>
<p>(43) Murid-muridnya berkata kepadanya, “Siapakah engkau ini sampai engkau harus mengatakan hal-hal ini kepada kami?” “Kamu tidak mengenal siapa aku dari apa yang aku katakan kepadamu. (Bdk Yoh 14:8-11) Tetapi kalian telah menjadi seperti orang-orang Yahudi! Mereka menyukai pohonnya tetapi membenci buahnya; mereka menyukai buahnya tetapi membenci pohonnya.” (Bdk Luk 6:43-44; Mat 7:16a, 16b, 19-20; 12:33a-b, 33c)</p>
<p>(44) Yesus berkata, “Barangsiapa menghujat sang Bapa, ia akan diampuni. Dan barangsiapa menghujat sang Anak, ia akan diampuni. Tetapi barangsiapa menghujat Roh Kudus, ia tidak akan diampuni, di bumi maupun di surga.” (Bdk Mat 12:31-32; Luk 12:10; Mrk 3:28-29)</p>
<p>(45) Yesus berkata, “Anggur tidak dituai dari semak duri; demikian juga buah ara tidak dari rumput duri. Semak dan rumput duri tidak menghasilkan buah. Seorang yang baik menghasilkan yang baik dari perbendaharaannya; seorang yang jahat mengeluarkan yang jahat dari perbendaharaan jahat di dalam hatinya, dan akan berkata-kata jahat. Sebab dari perbendaharaan hatinya, ia akan menghasilkan yang jahat.” (Bdk Luk 6:43-45; Mat 7:16a, 16b, 17, 18, 19-29; 12:33a-b, 33c, 34a, 34b-35; Yak 3:12)</p>
<p>(46) Yesus berkata, “Dari Adam sampai Yohanes Pembaptis, di antara orang yang dilahirkan perempuan, tidak ada yang lebih besar dari Yohanes Pembaptis, maka janganlah berpaling dari pandangan matanya. Tetapi aku berkata bahwa barangsiapa di antaramu menjadi seperti seorang anak, dia akan mengetahui kerajaan dan akan lebih besar dari Yohanes.” (Bdk Mat 11:11; Luk 7:28)</p>
<p>(47) Yesus berkata, “Orang tidak dapat menunggang dua ekor kuda atau menarik dua busur panah. Seorang hamba tidak dapat melayani dua tuan; sebab ia akan menghormati yang satu, tetapi menghina yang lainnya. (Bdk Mat 6:24; Luk 16:13) Tidak ada orang yang sedang meminum anggur tua, mendadak ingin meminum anggur baru. Anggur baru tidak disimpan dalam kantung-kantung kulit tua, sebab kantung-kantung kulit itu akan koyak; dan anggur tua tidak akan dituang ke dalam kantung kulit baru, karena anggur tua itu bisa rusak. (Bdk Mat 9:17; Mrk 2:22; Luk 8:37-39) Tidak ada orang menambalkan suatu potongan kain tua pada suatu pakaian baru, sebab pakaian baru itu akan koyak.” (Bdk Mat 9:16; Mrk 2:21; Luk 5:36)</p>
<p>(48) Yesus berkata, “Jika dua orang saling berdamai dalam satu rumah, mereka akan berkata kepada gunung ini: ‘Terangkatlah dari sini!’ Maka gunung itupun terangkat.” (Bdk Injil Thomas 106; Mat 18:19; 17:20b; Luk 17:6b; Mat 21:21; Mrk 11:23; 1 Kor 13:2)</p>
<p>(49) Yesus berkata, “Berbahagialah mereka yang sendirian (Koptik: monakhos) dan yang terpilih, karena kamu akan mendapatkan kerajaan itu. Karena kamu telah datang dari sana, maka kamu akan kembali lagi ke sana.” (Bdk Injil Thomas 18)</p>
<p>(50) Yesus berkata, “Jika mereka berkata kepadamu, ‘Darimana asalmu?’, katakan kepada mereka, ‘Kami telah datang dari terang, dari tempat di mana terang telah ada dari dirinya sendiri, (Bdk Injil Thomas 61; 83) memantapkan dirinya sendiri, dan telah menampakkan diri di dalam gambar mereka.’ Jika mereka bertanya kepadamu, ‘Siapakah kamu?’, maka jawablah, ‘Kami adalah anak-anaknya, dan kami adalah orang-orang pilihan dari Bapa yang hidup.’ Jika mereka bertanya kepadamu, ‘Apa bukti bahwa Bapamu ada di dalammu?’, maka katakan kepada mereka, “Buktinya adalah gerak dan rehat.’”</p>
<p>(51) Murid-muridnya berkata kepadanya, “Kapankah rehat [kebangkitan?] bagi orang mati akan terjadi, dan bilamana dunia baru akan datang?” Ia berkata kepada mereka, “Rehat yang kamu sedang nanti-nantikan telah datang, tetapi kamu tidak mengetahuinya.” (Bdk Luk 17:20 21; Injil Thomas 113; Yoh 3:18-19; 5:25; 2 Tim 2:17-18)</p>
<p>(52) Murid-muridnya berkata kepadanya, “Dua puluh empat nabi telah berbicara di Israel, dan mereka semua berbicara tentang engkau.” Ia berkata kepada mereka, “Kalian telah mengabaikan Dia Yang Hidup yang ada di hadapan kalian, tetapi malah membicarakan orang orang yang sudah mati.”</p>
<p>(53) Murid-muridnya berkata kepadanya, “Bermanfaat atau tidakkah sunat itu?” Ia berkata kepada mereka, “Seandainya bermanfaat, maka ayah mereka akan melahirkan mereka dalam keadaan bersunat dari dalam kandungan ibu mereka. Tetapi sunat sejati di dalam roh itu berharga dalam segala hal.” (Bdk Rm 2:25-29)</p>
<p>(54) Yesus berkata, “Berbahagialah orang yang miskin. Sebab engkaulah yang empunya kerajaan sorga.” (Bdk Mat 5:3; Luk 6:20)</p>
<p>(55) Yesus berkata, “Barangsiapa tidak membenci ayahnya dan ibunya, ia tidak dapat menjadi muridku; dan barangsiapa tidak membenci saudara-saudaranya laki-laki dan saudara-saudaranya perempuan dan tidak memikul salibnya sama seperti aku, maka ia tidak berharga bagiku.” (Bdk Mat 10:37-38; Luk 14:26-27; Mat 16:24; Mrk 8:34; Luk 9:23; Injil Thomas 101)</p>
<p>(56) Yesus berkata, “Barangsiapa telah mengenal dunia ini, ia telah menemukan mayat. Dan barangsiapa telah mendapatkan mayat, baginya dunia ini tidak berharga.” (Bdk Injil Thomas 80)</p>
<p>(57) Yesus berkata, “Kerajaan sang Bapa itu seumpama seorang yang memiliki benih yang baik. Pada malam hari musuhnya datang dan menaburkan lalang-lalang di antara benih yang baik itu. Tetapi orang itu tidak mengizinkan pekerja-pekerjanya mencabut lalang-lalang itu. Ia berkata kepada mereka, ‘Jangan cabut, sebab kalau kalian mencabut lalang-lalang itu, tanaman gandum pun akan ikut tercabut.’ Pada waktu panen nanti, lalang-lalang itu akan kelihatan jelas. Barulah lalang-lalang itu dicabut dan dibakar.” (Bdk Mat 13:24-30)</p>
<p>(58) Yesus berkata, “Berbahagialah orang yang telah bekerja keras dan telah menemukan kehidupan.” (Bdk Ams 8:34-36; Injil Thomas 68-69)</p>
<p>(59) Yesus berkata, “Carilah Dia Yang Hidup sementara kamu masih hidup, atau kamu akan mati lalu berusaha melihat dia yang hidup, dan kamu tidak akan bisa melihatnya.” (Bdk Luk 17:22; Yoh 7:33-36; 8:21; 13:33; Injil Thomas 38)</p>
<p>(60) Ia melihat seorang Samaria sedang membawa seekor anak domba ketika ia sedang dalam perjalanan menuju Yudea.<br />
Ia berkata kepada murid-muridnya, “Orang itu sedang membawa domba itu berkeliling.”<br />
Mereka berkata kepadanya, “Lalu orang itu dapat membunuh domba itu lalu memakannya.”<br />
Ia berkata kepada mereka, “Selama domba itu masih hidup, ia tidak akan memakannya. Tetapi hanya ketika ia telah membunuh domba itu, dan domba itu telah menjadi mayat.”<br />
Mereka berkata, “Kalau tidak dibunuh dulu, ia tidak akan bisa memakannya.”<br />
Ia berkata kepada mereka, “Kalian, juga, carilah suatu tempat untuk rehat kalian, atau, kalian akan menjadi mayat lalu dimakan.” (Bdk Injil Thomas 7; 11)</p>
<p>(61) Yesus berkata, “Dua orang akan beristirahat pada sebuah dipan; seorang akan mati, dan yang lainnya akan hidup.” (Bdk Luk 17:34-35; Mat 24:40-41)<br />
Salome berkata, “Siapakah engkau, Tuan? Engkau telah naik ke dipanku dan makan dari mejaku seolah-olah engkau berasal dari seseorang.”<br />
Yesus berkata kepadanya, “Aku adalah dia yang datang dari kepenuhan. Kepadaku telah diberikan hal-hal yang berasal dari Bapaku.” (Bdk Mat 11:27; Luk 10:22; Yoh 3:35; 6:37-39; 13:3-4)<br />
“Akulah muridmu.”<br />
“Karena itulah aku katakan, jika seorang itu penuh, orang itu akan diisi terang, (Bdk Yoh 8:12; Injil Thomas 50; 83) tetapi jika seseorang itu terbagi, dia akan dipenuhi kegelapan.”</p>
<p>(62) Yesus berkata, “Aku menyingkapkan rahasia-rahasiaku kepada orang-orang yang layak menerima rahasia-rahasiaku. (Bdk Mat 13:11; Mrk 4:11; Luk 8:10) Janganlah tangan kirimu mengetahui apa yang sedang diperbuat tangan kananmu.” (Bdk Mat 6:3)</p>
<p>(63) Yesus berkata, “Adalah seorang kaya yang memiliki sangat banyak uang. Kata orang itu, ‘Aku akan menanam uangku supaya aku dapat menabur, menuai, menanam, dan mengisi lumbung-lumbungku dengan hasilnya, supaya aku tidak akan kekurangan apapun. Inilah hal-hal yang ia pikirkan di dalam hatinya, tetapi pada malam itu juga ia mati. Barangsiapa bertelinga, hendaklah ia mendengar.” (Bdk Luk 12:16-21)</p>
<p>(64) Yesus berkata, “Seseorang sedang menerima tamu-tamu. Pada waktu ia telah menyiapkan jamuan malam, ia mengirim hambanya untuk mengundang tamu-tamu itu. Hamba itu pergi kepada tamu yang pertama dan berkata kepadanya, ‘Tuanku mengundang engkau.’<br />
Orang itu berkata, ‘Beberapa pedagang berhutang uang kepadaku; mereka akan datang kepadaku malam ini. Aku harus pergi dan memberi mereka petunjuk-petunjukku. Jadi maafkanlah, aku tidak bisa datang.’<br />
Hamba itu pergi kepada tamu lainnya dan berkata kepadanya, ‘Tuanku telah mengundangmu.’<br />
Orang itu berkata kepada hamba itu, ‘Aku telah membeli sebuah rumah dan aku telah dipanggil untuk pergi satu hari. Aku tidak akan punya waktu.’<br />
Hamba itu pergi kepada tamu lainnya dan berkata kepadanya, ‘Tuanku mengundang engkau.’<br />
Orang itu berkata kepada hamba itu, ‘Sahabatku mau menikah dan aku harus menyiapkan perjamuannya. Aku tidak dapat datang. Maafkanlah aku.’<br />
Hamba itu pergi kepada seorang tamu lainnya dan berkata kepadanya, ‘Tuanku mengundang engkau.’<br />
Orang itu berkata kepada hamba itu, ‘Aku telah membeli sebuah perkebunan dan aku akan pergi untuk memungut uang sewanya. Aku tidak akan dapat datang. Maafkan aku.’<br />
Hamba itu kembali dan berkata kepada tuannya, ‘Orang-orang yang engkau telah undang ke perjamuan makan malam telah meminta maaf karena tidak bisa datang.’<br />
Tuan itu berkata kepada hambanya itu, ‘Pergilah ke jalan-jalan dan bawalah siapapun yang engkau jumpai ke perjamuan malam ini.’ (Bdk Mat 22:1-10; Luk 14:16-24; Ul 20:5-7; 24:5)<br />
Para pembeli dan pedagang tidak akan masuk ke dalam tempat-tempat Bapaku.” (Bdk Sir 26:29; Injil Thomas 63)</p>
<p>(65) Ia berkata, “Seorang tukang riba memiliki sebuah kebun anggur dan menyewakannya kepada beberapa penggarap, supaya mereka dapat bekerja dan ia dapat memungut hasilnya dari mereka. Ia mengutus hambanya supaya para penggarap itu dapat memberi kepada hambanya hasil dari kebun anggur itu.<br />
Mereka menangkap, memukuli, dan hampir membunuh hambanya itu, dan hamba itu kembali dan memberitahukan tuannya. Tuannya berkata, ‘Mungkin ia tidak mengenal mereka.’ Ia mengutus seorang hamba lainnya, dan para penggarap itu memukulinya juga. Lalu tuan itu mengutus anaknya dan berkata, ‘Mungkin mereka akan menunjukkan rasa hormat mereka kepada anakku.’ Karena para penggarap itu tahu bahwa ia adalah pewaris kebun anggur itu, mereka menangkapnya lalu membunuhnya. Barangsiapa bertelinga, hendaklah ia mendengar.” (Bdk Mat 21:33-41; Mrk 12:1-9; Luk 20:9-16)</p>
<p>(66) Yesus berkata, “Tunjukkanlah kepadaku batu yang ditolak oleh para tukang bangunan: itulah batu penjuru.” (Bdk Mzm 118:22; Mat 21:42; Mrk 12:10; Luk 20:17; Kis 4:11; 1 Pet 2:7)</p>
<p>(67) Yesus berkata, “Orang yang mengetahui segala sesuatu tetapi tidak memiliki dirinya sendiri, ia tidak memiliki apapun.”</p>
<p>(68) Yesus berkata, “Berbahagialah kamu kalau kamu dibenci dan dianiaya, dan tidak ada tempat yang akan ditemukan, di manapun kamu dianiaya.” (Bdk Mat 5:10, 11; Luk 6:22; Injil Thomas 58; 69)</p>
<p>(69) Yesus berkata, “Berbahagialah orang-orang yang telah dianiaya dalam hati mereka: mereka adalah orang-orang yang telah dengan sungguh-sungguh mengenal sang Bapa. (Bdk Injil Thomas 68) Diberkatilah orang-orang yang lapar, supaya perut kosong orang-orang itu dikenyangkan.” (Bdk Mat 5:6; Luk 6:21)</p>
<p>(70) Yesus berkata, “Jikalau engkau mengeluarkan apa yang ada di dalammu, maka apa yang engkau miliki akan menyelamatkanmu. Jikalau engkau tidak memiliki apa yang ada di dalammu, maka apa yang engkau tidak miliki di dalammu akan membunuhmu.” (Bdk Injil Thomas 41; 67)</p>
<p>(71) Yesus berkata, “Aku akan menghancurkan rumah ini, dan tidak ada seorang pun akan dapat membangunnya kembali.” (Bdk Mat 26:61; Mrk 14:58; Mat 27:40; Mrk 15:29; Kis 6:14; Yoh 2:19)</p>
<p>(72) Seseorang berkata kepadanya, “Beritahukanlah saudara-saudaraku untuk membagi barang-barang kepunyaan bapaku dengan aku.”<br />
Ia berkata kepada orang itu, “Tuan, siapa yang membuat aku menjadi seorang pembagi?”<br />
Ia berpaling kepada murid-muridnya dan berkata kepada mereka, “Aku bukan seorang pembagi, bukan?” (Bdk Luk 12:13-14)</p>
<p>(73) Yesus berkata, “Panenan besar, tetapi para pekerja sedikit. Karena itu mintalah tuan pemiliknya untuk mengirim para pekerja ke panen itu.” (Bdk Mat 9:37-38; Luk 10:2)</p>
<p>(74) Seseorang berkata, “Tuan, ada banyak orang di sekitar bak minum, tetapi tidak ada sesuatu apapun dalam sumur.”</p>
<p>(75) Yesus berkata, “Ada banyak orang berdiri di muka pintu, tetapi orang-orang yang sendirianlah (Koptik: monakhos) yang akan masuk ke dalam kamar pengantin.” (Bdk Mat 25:1-13)</p>
<p>(76) Yesus berkata, “Kerajaan sang Bapa itu seumpama seorang pedagang yang memiliki sejumlah persediaan barang dagangan, lalu ia menemukan sebuah mutiara. Pedagang itu bijaksana; ia menjual semua barang dagangannya dan membeli satu mutiara itu untuk dirinya. (Bdk Mat 13:45-46) Demikian juga dengan kamu, carilah harta yang tidak bisa binasa, yang kekal, di mana tidak ada ngengat yang datang untuk memakannya dan tidak ada cacing yang akan menghancurkannya.” (Bdk Mat 6:19-20; Luk 12:33; Mat 13:44)</p>
<p>(77) Yesus berkata, “Akulah terang yang ada di atas segalanya. (Bdk Yoh 8:12) Akulah segalanya: dari aku segala sesuatunya berasal, dan kepadaku segalanya kembali. (Bdk Rm 11:36; 1 Kor 8:6) Belahlah sebatang kayu, maka aku ada di situ. Angkatlah batu, maka kamu akan menemukan aku di situ.” (Bdk Pkh 10:9; Hab 2:18-20)</p>
<p>(78) Yesus berkata, “Mengapa kamu telah datang ke pedalaman? Untuk melihat sebatang buluh yang digoyang anginkah? Ataukah untuk melihat seseorang yang berpakaian kain halus, sama seperti para penguasa dan orang-orang yang memerintah kamu? Mereka berpakaian kain halus, dan mereka tidak dapat memahami kebenaran.” (Bdk Mat 11:7-8; Luk 7:24-25)</p>
<p>(79) Seorang perempuan di dalam kerumunan berkata kepadanya, “Diberkatilah rahim yang telah memperanakkanmu dan payu dara yang telah menyusuimu.” (Bdk Luk 11:27-28)<br />
Ia berkata kepadanya, “Diberkatilah orang-orang yang telah mendengar firman sang Bapa dan telah dengan sungguh-sungguh memeliharanya. (Bdk Yoh 13:17; Yak 1:25) Karena akan ada hari-hari di mana engkau akan berkata, ‘Diberkatilah rahim yang tidak mengandung dan payu dara yang tidak memberi susu.’” (Bdk Luk 23:29; Mat 24:19; Mrk 13:17; Luk 21:23)</p>
<p>(80) Yesus berkata, “Barangsiapa yang telah mengenal dunia, telah menemukan tubuh, dan barangsiapa yang telah menemukan tubuh, baginya dunia ini tidak berharga lagi.” (Injil Thomas 56)</p>
<p>(81) Yesus berkata, “Hendaklah orang yang telah menjadi kaya, memerintah, dan hendaklah orang yang memiliki kuasa melepaskannya.” (Bdk 1 Kor 4:8; Injil Thomas 110)</p>
<p>(82) Yesus berkata, “Barangsiapa dekat dengan aku, ia dekat dengan api, dan barangsiapa jauh dari aku, ia jauh dari kerajaan.”</p>
<p>(83) Yesus berkata, “Gambar-gambar kelihatan dalam pandangan orang, tetapi terang yang ada dalam mereka (Bdk Injil Thomas 50; 61) tersembunyi dalam gambar terang sang Bapa. Sang Bapa akan dinyatakan, tetapi gambarnya tersembunyi oleh terangnya.” (Bdk Kej 1:26-28)</p>
<p>(84) Yesus berkata, “Pada waktu engkau melihat rupamu, engkau senang. Tetapi pada waktu engkau melihat gambar-gambarmu yang tercipta di hadapanmu dan yang tidak mati dan tidak kelihatan, betapa banyak engkau akan menanggungnya.” (Bdk Kej 1:26-28)</p>
<p>(85) Yesus berkata, “Adam berasal dari kuasa akbar (Bdk Kis 8:9-10) dan kekayaan akbar, tetapi ia tidak layak bagimu. Sebab jika ia layak, ia tidak akan mengecap kematian.”</p>
<p>(86) Yesus berkata, “Rubah-rubah memiliki kandang dan burung-burung mempunyai sarang, tetapi sang anak manusia tidak memiliki tempat untuk membaringkan kepalanya dan beristirahat.” (Bdk Mat 8:20; Luk 9:58)</p>
<p>(87) Yesus berkata, “Betapa menyedihkannya tubuh yang bergantung pada suatu tubuh, dan betapa menyedihkannya jiwa yang bergantung pada keduanya ini.” (Bdk Injil Thomas 29; 112)</p>
<p>(88) Yesus berkata, “Pemberita-pemberita [= malaikat-malaikat] dan nabi-nabi akan datang kepadamu dan memberikanmu apa yang menjadi milikmu. Pada gilirannya berilah mereka apa yang engkau punya, dan berkatalah kepada dirimu sendiri, ‘Kapankah mereka akan datang dan mengambil apa yang menjadi milik mereka?’”</p>
<p>(89) Yesus berkata, “Mengapa engkau mencuci bagian luar dari piala minuman itu? Apakah engkau tidak mengerti bahwa dia yang membuat bagian dalam adalah juga dia yang membuat bagian luar?” (Bdk Mat 23:25-26; Luk 11:39-41)</p>
<p>(90) Yesus berkata, “Datanglah kepadaku, sebab kuk yang kupasang itu mudah dan kekuasaanku pun lembut, dan kamu akan mendapat rehat bagi dirimu sendiri.” (Bdk Mat 11:28-30; Sir 51:26-27)</p>
<p>(91) Mereka berkata kepadanya, “Katakan kepada kami, siapakah engkau, supaya kami dapat percaya kepadamu.”<br />
Ia berkata kepada mereka, “Kamu meneliti rupa sorga dan bumi, tetapi kamu tidak mengenal dia yang ada di hadapanmu, dan kamu tidak tahu bagaimana memeriksa saat ini.” (Bdk Mat 16:1, 2-3; Luk 12:54-56)</p>
<p>(92) Yesus berkata, “carilah, maka kamu akan mendapatkan. (Bdk Injil Thomas 2; 94; Mat 7:7-8; Luk 11:9-10) Tetapi, pada masa lalu, aku tidak memberitahumu hal-hal yang kamu telah tanyakan kepadaku waktu itu. Kini aku mau memberitahukannya, tetapi kamu tidak mencarinya.” (Bdk Yoh 16:4-5, 12-15, 22-28)</p>
<p>(93) “Jangan beri apa yang suci kepada anjing-anjing, atau mereka akan melemparnya ke gundukan rabuk. Jangan lempar mutiara-mutiara kepada babi, atau mereka akan menjadikannya lumpur.” (Bdk Mat 7:6)</p>
<p>(94) Yesus berkata, “Orang yang mencari, akan menemukan; untuk orang yang mengetuk, pintu baginya akan dibukakan.” (Bdk Injil Thomas 2; 92; Mat 7:7-8; Luk 11:9-10)</p>
<p>(95) Yesus berkata, “Jika engkau mempunyai uang, jangan meminjamkannya dengan riba. Tetapi, berikan uang itu kepada seseorang yang darinya engkau tidak akan menerimanya kembali.” (Bdk Mat 5:42; Luk 6:30, 34-35b, 35c)</p>
<p>(96) Yesus berkata, “Kerajaan sang Bapa itu seumpama seorang perempuan. Ia mengambil sedikit ragi, lalu menyembunyikannya dalam adonan, dan menjadikannya ketul-ketul roti yang besar. Barangsiapa bertelinga, hendaklah ia mendengar.” (Bdk Mat 13:33; Luk 13:20-21)</p>
<p>(97) Yesus berkata, “Kerajaan sang Bapa itu seumpama seorang perempuan yang sedang membawa tepung seguci penuh. Ketika ia sedang berjalan di sepanjang sebuah jalan yang jauh, tangkai guci itu hancur dan tepung itu tumpah di sampingnya di sepanjang jalan itu. Ia tidak mengetahui hal ini; ia tidak melihat ada suatu masalah. Ketika ia sampai di rumahnya, ia meletakkan buli-buli itu dan menemukannya sudah kosong.”</p>
<p>(98) Yesus berkata, “Kerajaan sang Bapa itu seumpama seorang yang ingin membunuh seorang yang sangat berkuasa. Ketika ada di rumah, ia menarik pedangnya dan menancapkannya pada dinding untuk mengetahui apakah tangannya cukup kuat. Lalu ia membunuh orang yang berkuasa itu.” (Bdk Injil Thomas 35; Mat 11:12-13; Luk 16:16)</p>
<p>(99) Murid-muridnya berkata kepadanya,<br />
“Saudara-saudaramu dan ibumu sedang berdiri di luar.”<br />
Ia berkata kepada mereka, “Mereka yang ada di sini, yang melakukan kehendak Bapaku adalah saudara-saudaraku dan ibuku. Mereka adalah orang-orang yang akan masuk ke dalam kerajaan Bapaku.” (Bdk Mat 12:46-50; Mrk 3:31-35; Luk 8:19-21)</p>
<p>(100) Mereka memperlihatkan kepada Yesus sekeping uang emas dan berkata kepadanya, “Orang-orang sang kaisar menuntut pajak dari kita.”<br />
Ia berkata kepada mereka, “Beri kepada kaisar apa yang menjadi milik sang kaisar; beri kepada Allah apa yang menjadi kepunyaan Allah, dan beri kepadaku apa yang menjadi milikku.” (Bdk Mat 22:15-22; Mrk 12:13-17; Luk 20:20-26)</p>
<p>(101) “Barangsiapa tidak membenci ayahnya dan ibunya seperti aku, ia tidak dapat menjadi muridku, dan barangsiapa tidak mengasihi ayah dan ibunya seperti aku, ia tidak dapat menjadi muridku. Sebab ibuku memberi aku kepalsuan, tetapi ibuku yang sejati memberiku kehidupan.” (Bdk Mat 10:37-38; Luk 12:26-27; Injil Thomas 55)</p>
<p>(102) Yesus berkata, “Hendaklah orang-orang Farisi menjadi malu, sebab mereka seperti seekor anjing yang sedang tidur di palungan ternak, sebab anjing ini sendiri tidak makan atau membiarkan ternak itu makan.” (Bdk Mat 23:13; Luk 11:52; Injil Thomas 39)</p>
<p>(103) Yesus berkata, “Diberkatilah orang yang mengetahui kapan para perampok akan masuk, sehingga ia dapat bangun, mengumpulkan semua harta kekayaannya, dan mempersenjatai dirinya sebelum mereka masuk.” (Bdk Injil Thomas 21; Mat 24:43; Luk 12:39)</p>
<p>(104) Mereka berkata kepada Yesus, “Datanglah, marilah kita hari ini berdoa dan marilah kita berpuasa.”<br />
Yesus berkata, “Dosa apa yang telah aku lakukan, atau bagaimana aku telah menjadi rusak? Tetapi, ketika mempelai pria telah meninggalkan kamar perkawinan, maka hendaklah orang berpuasa dan berdoa.” (Bdk Mat 9:14-15; Mrk 2:18-20; Luk 5:33-35)</p>
<p>(105) Yesus berkata, “Barangsiapa mengenal bapa atau ibu, maka ia akan disebut anak seorang pelacur.” (Bdk Injil Thomas 55; 101; Yoh 8:41)</p>
<p>(106) Yesus berkata, “Pada waktu kamu membuat dua menjadi satu, maka kamu akan menjadi anak-anak manusia, dan pada waktu kamu berkata, ‘Gunung, tersingkirlah dari sini’, maka gunung ini akan pindah.” (Bdk Injil Thomas 48; Mat 18:19; 17:20b; Luk 17:6b; Mat 21:21; Mrk 11:23; 1 Kor 13:2)</p>
<p>(107) Yesus berkata, “Kerajaan itu seumpama seorang gembala yang memiliki seratus ekor domba. Satu ekor di antaranya, yang paling besar, tersesat. Ia meninggalkan yang sembilan puluh sembilan ekor itu, dan mencari yang satu itu sampai ia menemukannya. Setelah ia menemukannya, ia berkata kepada domba itu, ‘Aku mengasihimu lebih dari yang sembilan puluh sembilan ekor itu.’” (Bdk Mat 18:12-13; Luk 15:4-7; Yeh 34:15-16)</p>
<p>(108) Yesus berkata, “Barangsiapa minum dari mulutku, ia akan menjadi seperti aku; aku sendiri akan menjadi orang itu, dan hal-hal tersembunyi akan dinyatakan kepada orang itu.” (Bdk Injil Thomas 13; Yoh 4:13-14; 7:37-39; Sir 24:21)</p>
<p>(109) Yesus berkata, “Kerajaan itu seumpama orang yang memiliki harta terpendam di ladang, tetapi ia tidak mengetahuinya. Maka ketika ia mati, ia mewariskan ladang itu kepada anaknya. Sang anak juga tidak mengetahuinya. Ia mengambil alih ladang itu dan menjualnya. Si pembeli mulai membajak, lalu menemukan harta terpendam itu, dan ia pun mulai membungakan uang kepada siapa yang dikehendakinya.” (Bdk Ams 2:1-5; Sir 20:30-31; Mat 13:44)</p>
<p>(110) Yesus berkata, “Hendaklah orang yang telah menemukan dunia ini dan telah menjadi kaya, meninggalkan dunia ini.” (Bdk Injil Thomas 27; 81)</p>
<p>(111) Yesus berkata, “Langit dan bumi akan bergulung di hadapanmu, dan barangsiapa hidup dari dia yang hidup, dia tidak akan melihat kematian.” (Bdk Yes 34:4; Mzm 102:25-27; Ibr 1:10-12; Why 6:13-14)</p>
<p>(112) Yesus berkata, “Dipermalukanlah daging yang bergantung pada jiwa. Dipermalukanlah jiwa yang bergantung pada daging.” (Bdk Injil Thomas 29; 87)</p>
<p>(113) Murid-muridnya berkata kepadanya, “Bilamanakah kerajaan akan datang?”<br />
“Kerajaan tidak akan datang hanya dengan memperhatikannya. Tidak akan dikatakan, ‘Lihat, ia ada di sini’, atau ‘Lihat, ia ada di sana.’ Tetapi, kerajaan sang Bapa itu terbentang di muka bumi, dan orang tidak melihatnya.” (Bdk Mrk 13:21-23; Mat 24:23-25, 26-27; Luk 17:20-22, 23-24; Injil Thomas 3)</p>
<p>(114) Simon Petrus berkata kepada mereka, “Maria harus meninggalkan kita, sebab perempuan-perempuan tidak layak menerima kehidupan.”<br />
Yesus berkata, “Lihat, aku akan membimbingnya untuk menjadikannya laki-laki, sehingga ia juga dapat menjadi suatu roh yang menghidupkan, yang sama dengan kalian yang laki-laki. Sebab setiap perempuan yang menjadikan dirinya laki-laki, akan masuk ke dalam kerajaan sorga.” (Bdk Injil Thomas 22)</p>
<p>Injil menurut Thomas </p>
<p>The Gospel of Thomas (NHC II,2)<br />
(114 ucapan Yesus/114 sayings of Jesus)<br />
(Translated into Indonesian by Ioanes Rakhmat)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.oyr79.com/magen/injil-thomas/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Injil Maria Magdalena</title>
		<link>http://www.oyr79.com/magen/injil-maria-magdalena/</link>
		<comments>http://www.oyr79.com/magen/injil-maria-magdalena/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 08 Jan 2008 01:47:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rabbi</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Alkitab]]></category>

		<category><![CDATA[Kristologi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.oyr79.com/magen/injil-maria-magdalena/</guid>
		<description><![CDATA[1. (halaman 1-6 hilang)
2. Hakikat materi
(1) “… Akankah materi dihancurkan atau tidak?”
(2) Sang Penyelamat berkata, “Segala yang kodrati, segala yang dibentuk, segala ciptaan, ada di dalam dan bersama dengan yang lainnya. (3) Dan semuanya itu akan lenyap kembali ke akarnya sendiri. (4) Kodrat materi lenyap ke dalam akar kodratinya. (5) Barangsiapa bertelinga untuk mendengar, hendaklah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>1. (halaman 1-6 hilang)</p>
<p>2. Hakikat materi</p>
<p>(1) “… Akankah materi dihancurkan atau tidak?”<span id="more-18"></span><br />
(2) Sang Penyelamat berkata, “Segala yang kodrati, segala yang dibentuk, segala ciptaan, ada di dalam dan bersama dengan yang lainnya. (3) Dan semuanya itu akan lenyap kembali ke akarnya sendiri. (4) Kodrat materi lenyap ke dalam akar kodratinya. (5) Barangsiapa bertelinga untuk mendengar, hendaklah ia mendengar.”</p>
<p>3. Hakikat dosa dan kebajikan</p>
<p>(1) Maka Petrus berkata kepadanya, “Engkau sudah menjelaskan segala sesuatunya kepada kami. (2) Katakan juga , apa dosa dunia ini?” (3) Sang Penyelamat menjawab, “Tidak ada sesuatu yang disebut dosa, (4) tetapi kamulah yang menciptakan dosa pada waktu kamu melakukan perzinahan, dan perzinahan inilah yang disebut dosa. (5) Karena alasan itulah, Kebajikan telah datang di antaramu, telah datang kepada setiap hal kodrati, (6) supaya memulihkan kodrat kembali ke akarnya.” (7) Lalu ia melanjutkan, “Itulah sebabnya mengapa kamu menjadi sakit dan mati, (8) sebab [kamu mengasihi] apa [yang memperdaya kamu]. (9) Barangsiapa memiliki pengertian, hendaklah ia memahami. (10) Materi menimbulkan penderitaan tanpa bentuk, karena penderitaan itu datang dari apa yang bertentangan dengan kodrat. (11) Maka kekacauan yang mengganggu terjadi pada seluruh tubuh. (12) Itulah sebabnya aku katakan kepadamu, Jadilah bajik dan pemberani. (13) Dan jikalau kamu kehilangan keberanian, hendaklah kamu tetap berani di tengah-tengah adanya aneka bentuk kodrati. (14) Barangsiapa bertelinga untuk mendengar, hendaklah ia mendengar.”</p>
<p>4. Perpisahan dengan sang Penyelamat</p>
<p>(1) Ketika Dia yang Diberkati telah mengatakan hal-hal ini, ia menyalami mereka dan berkata, “Damai bagimu!” (2) “Terimalah damai dariku dalam dirimu!”(3)“Hati-hatilah (4) supaya tidak seorang pun menyesatkan kamu dengan mengatakan, ’Lihat ia ada di sini’ atau ‘Lihat ia ada di sana.’ (5) Sebab sang Anak Manusia ada di dalam kamu. (6) Ikutilah dia. (7) Orang-orang yang mencarinya, akan mendapatkannya.” (8) “Maka pergilah, beritakan Injil tentang kerajaan. (9)Janganlah membuat aturan-aturan apa pun selain apa yang aku telah berikan kepadamu, (10) dan juga janganlah menegakkan hukum seperti yang diperbuat pemberi hukum, sebab jika tidak demikian kamu akan diikat olehnya.” (11) Setelah ia mengatakan hal-hal ini, ia pun pergi meninggalkan mereka. [Lihat juga Papyrus Oxyrhynchus 3525].[2]</p>
<p>5. Maria menghibur murid-murid lainnya [Lihat juga P. Oxy 3525]</p>
<p>(1) Murid-murid sangat tertekan, menangis sangat sedih, dan berkata, (2) “Bagaimana kita dapat pergi ke dunia bangsa-bangsa lain dan memberitakan Injil tentang kerajaan sang Anak Manusia? (3) Jika mereka tidak menyayangkannya, maka bagaimana kita juga akan disayangkan?” (4) Maka Maria pun bangkit berdiri. Ia menyalami semua murid lainnya, dan berkata kepada saudara-saudaranya itu, (5) “Jangan menangis, jangan berduka dan jangan ragu, (6) sebab kasih karunianya akan menyertai kamu semua dan akan melindungi kamu. (7) Tetapi, mari kita puji keagungannya, (8) sebab ia telah mempersiapkan kita dan membuat kita menjadi manusia-manusia sejati.” (9) Ketika Maria mengatakan hal-hal ini, ia berhasil menenangkan hati mereka. (10) Maka mulailah mereka memperdebatkan ucapan-ucapan sang [Penyelamat] sendiri.</p>
<p>6. Petrus meminta Maria mengajar [Lihat juga P. Oxy 3525]</p>
<p>(1) Petrus berkata kepada Maria, “Saudaraku, kita tahu sang Penyelamat mengasihi engkau lebih dari dia mengasihi semua perempuan lain. (2) Katakanlah kepada kami kata-kata sang Penyelamat yang engkau ingat, hal-hal yang kamu ketahui yang tidak kami ketahui sebab kami belum mendengarnya.” (3) Maria menjawab, “Aku akan mengatakan kepada kalian hal-hal yang tersembunyi bagi kalian.” (4) Maka mulailah Maria mengatakan kata-kata ini kepada mereka.</p>
<p>7. Penglihatan dan pikiran</p>
<p>(1) Ia berkata, “Aku melihat Tuhan dalam suatu penglihatan (2) dan aku berkata kepadanya, ‘Tuhan, aku telah melihatmu hari ini dalam suatu penglihatan.’” (3) Ia menjawabku, “Diberkatilah kamu, sebab kamu tidak ragu waktu melihat aku! (4) Sebab di mana ada pikiran, di situ harta berada.” (5) Aku berkata kepadanya, “Guru, bagaimanakah seseorang itu melihat sebuah penglihatan, apakah dengan jiwanya ataukah dengan rohnya?” [untuk 7:1-5, lihat juga P. Oxy 3525] (6) Sang Penyelamat menjawab, “Seseorang tidak melihat dengan jiwanya atau pun dengan rohnya. (7) Pikiran, yang ada di antara keduanya, itulah yang melihat penglihatan …”</p>
<p>8. (halaman 11-14 hilang)</p>
<p>9. Naiknya jiwa [BG 8502]</p>
<p>(1) “ … nya.” (2) Dan Hasrat berkata, “Aku tidak melihat engkau turun, namun sekarang aku melihat engkau naik. (3) Mengapa engkau berdusta, sebab engkau kepunyaanku?” (4) Jiwa pun menjawab, “Aku telah melihat engkau, tetapi engkau tidak melihat atau mengenal aku. (5) Bagimu aku hanyalah sepotong pakaian, (6) dan kamu tidak mengenal aku.” (7) Setelah jiwa mengatakan hal ini, ia pun pergi dengan kesukaan besar. (8) Jiwa pun mendekati Kuasa ketiga, yang disebut “Ketidaktahuan”. (9) Kuasa ini bertanya kepada jiwa, “Kemana engkau hendak pergi? (10) Engkau diikat oleh kefasikan, (11) sesungguhnya engkau diikat, (12) karena itu janganlah menghakimi!” (13) Dan jiwa berkata, “Mengapa kamu menghakimi aku, sebab aku sendiri tidak menghakimi? (14) Aku diikat, tetapi aku tidak mengikat apa pun. (15) Mereka tidak mengenal aku, tetapi aku tahu bahwa dunia ini harus dilenyapkan, yakni hal-hal yang duniawi maupun hal-hal yang surgawi.” (16) Pada waktu jiwa telah mengalahkan Kuasa yang ketiga, ia pun naik dan melihat Kuasa keempat. (17) Kuasa ini memiliki tujuh bentuk:</p>
<p>(18) Bentuk yang pertama adalah kegelapan,<br />
(19) yang kedua Hasrat<br />
(20) yang ketiga ketidaktahuan<br />
(21) yang keempat keinginan yang membawa maut<br />
(22) yang kelima kerajaan kedagingan<br />
(23) yang keenam hikmat kedagingan yang bodoh<br />
(24) yang ketujuh hikmat orang yang marah.</p>
<p>(25) Inilah semua Kuasa-kuasa Kemurkaan.</p>
<p>(26) Mereka menyelidiki jiwa, “Dari mana kamu datang, hai pembunuh manusia, dan mau kemana kamu, hai penakluk kerajaan-kerajaan?” (27) Jiwa menjawab dan berkata, “Apa yang mengikat aku telah dibunuh, dan apa yang mengitari aku telah dihancurkan, dan hasratku telah diakhiri, dan ketidaktahuan pun telah mati. (28) Di dalam suatu dunia, aku telah dibebaskan dari suatu dunia lainnya, dan di dalam suatu gambar aku telah dibebaskan dari suatu gambar surgawi, dan dari rangkaian kealpaan yang sementara. (29) Sejak sekarang, aku akan beristirahat, melalui perjalanan waktu zaman ini, dalam kebisuan” [mulai 9:29 sampai selesai (10:15), lihat juga Papyrus Rylands 463].[3] (30) Setelah Maria mengatakan semua hal ini, ia pun berdiam diri, (31) sebab sang Penyelamat telah berbicara kepadanya hanya sampai di situ.</p>
<p>10. Murid-murid berselisih paham atas pengajaran Maria</p>
<p>(1) Andreas menanggapi dan berkata kepada saudara-saudaranya, “Katakanlah apa yang kalian pikirkan tentang apa yang ia [Maria] telah katakan, (2) tetapi aku tidak percaya kalau sang Penyelamat telah mengatakan hal-hal ini, sebab sesungguhnya ajaran-ajaran ini adalah gagasan-gagasan yang aneh.” (3) Petrus menanggapi dengan keprihatinan yang serupa. Ia bertanya kepada murid-murid lainnya tentang sang Penyelamat, “Apakah betul kalau ia berbicara kepada seorang perempuan secara pribadi tanpa sepengetahuan kita? (4) Apakah kita semua harus berpaling kepadanya dan mendengarkannya? Apakah dia memang lebih memilihnya daripada memilih kita?” (5) Maka Maria pun menangis dan berkata kepada Petrus, “Saudaraku Petrus, apa yang engkau sedang pikirkan? (6) Apakah engkau beranggapan bahwa aku telah mengada-ada atau bahwa aku berdusta tentang sang Penyelamat?” (7) Lewi menjawab, katanya kepada Petrus, “Petrus, engkau selalu saja marah. (8) Sekarang aku lihat engkau berbantahan dengan perempuan ini, sepertinya dia itu seorang musuh. (9) Jika sang Penyelamat memandangn