Pasang iklan banner di O! News hanya Rp. 1.000 per klik
Cari Tahu Arti Nama Anda:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (belum ada)
Loading ... Loading ...

AS - Rusia Tegang

Kirim ke Teman Anda Kirim ke Teman Anda 28 August 2008 – 18:38

Hubungan Amerika Serikat (AS) dan Rusia kian tegang setelah kapal-kapal perang kedua negara menempati posisi di tepi Laut Hitam, Kamis (28/8). Rusia menuding negara-negara Barat sebagai penyebab meningkatnya ketegangan di Laut Hitam, dengan memperbanyak keberadaan militer Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO). Moskwa menuduh Barat menggunakan pengiriman bantuan sebagai kedok untuk pengerahan militer Barat ke Georgia.

Juru Bicara Perdana Menteri Rusia Vladimir Putin, Dmitry Peskov, menegaskan bahwa Pemerintah Rusia memperhatikan secara saksama peningkatan militer NATO di Laut Hitam, setelah kapal perang kedua milik Amerika Serikat (AS) yang digunakan untuk mengirimkan bantuan tiba di Georgia.

“Bukan sesuatu yang biasa, mengirimkan bantuan kemanusiaan dengan kapal perang,” kata Peskov.

Rusia juga telah mengirimkan kekuatan angkatan lautnya ke Sukhumi, kota pelabuhan di Abkhazia, sehari setelah Presiden Rusia Dmitry Medvedev mengatakan negaranya tidak takut akan apa pun termasuk kemungkinan terjadinya perang dingin.

Dengan demikian, kapal-kapal perang AS dan Rusia menempati posisi yang saling berlawanan di tepi Laut Hitam, wilayah Georgia. Rusia yang kini menguasai pangkalan angkatan laut di Poti, telah mengirimkan rudal penjelajah Moskva dan dua pesawat yang bertugas “menjaga perdamaian” di Pelabuhan Sukhumi, pantai Abkhazia. AS membatalkan kedatangan kapal “Dallas” di Poti karena sudah dikuasai Rusia dan beralih arah ke Batumi.

Saling Kecam

Situasi ini makin menyulut ketegangan urat saraf antara Barat dan Rusia.

Saat berkunjung ke Ukraina, Menteri Luar Negeri Inggris David Miliband mengatakan Barat tidak tertarik pada perang dingin. “Presiden Medvedev bertanggung jawab untuk tidak memulainya,” tukas dia. Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov menyebut kritik Miliband atas Rusia sangat tidak pantas dan hipokrit.

Lavrov membandingkan aksi militer Rusia di Georgia dengan perang Inggris melawan Argentina untuk memperebutkan Pulau Falkland. “Aneh sekali Inggris harus mengkritik perlindungan terhadap warga negara kami sendiri di perbatasan, mengingat agresi militer Inggris di Falkland yang berada pada belahan lain dunia,” kata Lavrov.

Juru Bicara Putin juga mengingatkan bahwa ancaman untuk mengisolasi Moskwa, sebagai hukuman atas keputusan Rusia mengakui kemerdekaan Abkhazia dan Ossetia Selatan, tidak hanya akan berdampak negatif bagi Rusia. “Tapi, jelas melukai kepentingan ekonomi negara-negara (Barat) itu,” kata Peskov.

Menteri Pertanian Alexei Gordeyev, Rabu, mengatakan Rusia mempertimbangkan penghentian impor daging unggas dan babi.

Medvedev mendiskusikan situasi di Kaukasus dengan Presiden Tiongkok Hu Jintao, dalam pertemuan di Tajikistan, Rabu. “Presiden Rusia menginformasikan pada koleganya, mengenai situasi di Ossetia Selatan dan Abkhazia,” kata juru bicara kepresidenan Rusia, Natalya Timakova.

Tiongkok memilih bersikap netral tanpa dukungan atau kritik. Juru bicara kementerian luar negeri Tiongkok, Qin Gang mengatakan Tiongkok prihatin atas langkah Medvedev. [sp]

Kirim Komentar

1 User Browsing This Page.
Users: 1 Guest