Pilot Garuda Dan Merpati Di Bajak
Kirim ke Teman Anda
|
30 May 2007 – 14:12
Jakarta, sekitar jam setengah tujuh malam tepatnya hari minggu, seperti di dunia bisnis lainnya, usaha jasa penerbangan juga dirundung aksi bajak-membajak. Hanya saja yang jadi korbannya adalah maskapai Garuda Indonesia dan Merpati Nusantara Airlines (MNA).Pilot, terutama yang sudah senior, menjadi incaran perusahaan penerbangan swasta nasional dan asing. “Tahun ini, lima pilot kami pindah ke maskapai lain,” ungkap Direktur Operasi Garuda Ari Sapari, kemarin.
Iming-iming gaji gede dan berbagai fasilitas menyebabkan pilot tergoda untuk meninggalkan Garuda. “Saya aja ditawari kok. Nggak tangung-tanggung, direktur operasinya mau dibajak,” ujar Ari, pilot senior Airbus. Dia merupakan salah satu dari 584 pilot Garuda.
Pembajakan ini dengan motif biaya pendidikan pilot memerlukan biaya besar. Untuk mendapatkan izin terbang, penerbang yang baru lulus sekolah penerbang harus lulus pendidikan untuk mendapatkan lisensi penerbang sipil dengan dana sebesar 40-50 ribu dolar AS.
Selain itu, penerbang harus mendapatkan pelatihan type rating untuk menerbangan tipe pesawat tertentu sebesar 25-30 juta dolar AS. “Selain itu, butuh waktu lama untuk mendapatkan pengalaman terbang. Makanya lebih enak main bajak,” ujarnya.
Hal senada dikemukakan Direktur Utama MNA Hotasi Nababan. “Gila-gilaan emang bajak-bajakan pilot. Nggak kayak di sepakbola, pembajak nggak perlu bayar uang transfer ke kami. Mereka tinggal enaknya aja,” cetusnya.
Merajalelanya pembajakan menyebabkan manajemen Garuda kelabakan. “Apalagi kami akan menambah puluhan pesawat baru. Karenanya, tahun ini akan merekrut 35-50 pilot, tahun depan 50 orang dan 100 pilot pada 2009. Saat ini, sudah sembilan pilot lulus seleksi,” jelasnya.
Untuk mempertahankan pilotnya, Garuda meningkatkan gaji pilot Garuda dengan memberikan kenaikan pendapatan sekitar 40%. “Kenaikan itu berupa paket dengan beberapa insentif,” tegasnya.
Meski demikian, Ari sapari mengemukakan banyak pilot yang sudah pindah ternyata menyesal dan berkeingian kembali. “Karena banyak sekali fasilitas dan kebahagiaan hilang, yang selama ini mereka nikmati dari Garuda. Di tempat baru, ternyata mereka diperlakukan seperti mesin, bukan manusia,” ungkapnya.
Garuda tak menuutup pintu. “Mereka bisa diterima kembali, hanya saja harus memulai lagi dari nol. Banyak juga yang mau seperti itu, demi fasilitas dan kebahagiaan yang direngguk dari Garuda,” jelasnya.
KL © 2007


Satu komentar untuk “Pilot Garuda Dan Merpati Di Bajak”
“Memang gaji kecil kerja di Garuda tapi kebahagiaan serasa seluas samudera”, kata ayahku Alm. Bambang Haryono S. Danoenegoro yang wafat 27Juni 2007.
Kini aku bekerja di SBU Cargo Garuda Indonesia, sebagai pegawai darat dan nyatanya memang benar, aku ngga kaya. Tapi kaya ilmu. Jadi….di Garuda tempat gudangnya ilmu, khususnya bidang jasa angkutan penumpang dan barang melalui udara.
Insya Allah…beberapa tahun lagi aku ingin buka usaha sendiri berbekal 17 tahun pengalaman bekerja memperkaya Garuda Indonesia. Amin.
Oleh Bambang Sulaksono,S.AB pada Aug 15, 2008