Rusia - NATO Tidak Akan Perang
Kirim ke Teman Anda
|
31 August 2008 – 1:22
Ketegangan yang terlihat terus meningkat antara Moskwa dan negara-negara anggota NATO, setelah intervensi militer Rusia ke Georgia, untuk membalas serangan militer Georgia ke Ossetia Selatan, 7 Agustus, diyakini tidak bakal berlanjut dengan adu kekuatan militer antara Rusia dan Barat.
Sekalipun kekuatan ekonomi Rusia sudah pulih dengan kepemilikan minyak dan gas melimpah, yang digunakan untuk membangun kembali kekuatan militer pascaruntuhnya Uni Soviet, pengamat pertahanan Soedjati Djiwandono menilai Rusia tidak akan berani perang terbuka dengan Amerika Serikat (AS).
Soedjati merujuk pada masa Perang Dingin, yang hanya diwarnai sejumlah insiden tanpa mengarah pada terjadinya perang terbuka. Apalagi saat ini, di mana penguasaan teknologi senjata nuklir bukan hanya oleh AS dan Rusia, melainkan juga negara lain, terutama anggota NATO.
Kemampuan militer Inggris, Prancis, dan negara NATO lainnya, diyakini pengamat militer Sri Yunanto, masih lebih besar dibandingkan kekuatan militer Rusia, bahkan semasa Soviet sekali pun. Dia menambahkan AS justru lebih khawatir pada Tiongkok, yang terus membangun diri, baik ekonomi maupun militer.
Soedjati dan Yunanto, sepakat AS masih lebih unggul dalam penguasaan teknologi senjata, dibanding Rusia dan Tiongkok. Sekalipun begitu, Barat juga dipastikan tidak bakal mau memulai perang terbuka dengan Rusia dan Tiongkok. Apalagi, dua negara itu punya posisi tawar yang tinggi, terkait dengan kepentingan Barat. Terutama, pengaruh Rusia dan Tiongkok pada negara-negara ‘nakal’ yang dijadikan musuh oleh Barat, seperti Iran dan Korea Utara.
Georgia memang mendapat dukungan Barat. Washington khususnya, yang mendorong agar negara-negara pecahan Soviet seperti Georgia dan Ukraina dapat bergabung dengan NATO.
Washington dan NATO mengkritik keras dan melakukan sejumlah langkah yang dimaksudkan sebagai sanksi bagi Rusia, seperti membatalkan kerja sama militer dengan Rusia dan mengancam Moskwa atas keanggotaan mereka di perkumpulan internasional seperti WTO dan kelompok delapan (G-8).
Tapi, hal itu dinilai tidak akan banyak berpengaruh, karena Rusia telah mengabaikan ancaman Barat, dengan mengakui Ossetia Selatan dan Abkhazia sebagai negara yang merdeka. Demikian menurut pengamat dari salah satu lembaga studi di AS, Janusz Bugajski, yang dikutip kantor berita Reuters.
“Negara yang memutuskan menyerang Georgia dan menguasai sebagian wilayahnya tidak akan bisa ditakuti dengan WTO atau G-8. Itu sudah lewat,” katanya. Juru Bicara Departemen Luar Negeri AS Robert Wood mengatakan Washington mempertimbangkan beberapa tindakan untuk Rusia.
Wood tidak mau menyebutkan beberapa tindakan itu, namun intervensi militer AS untuk membantu Georgia melawan Rusia tampaknya tidak akan jadi salah satu dari beberapa pilihan yang dipertimbangkan. Rusia sepertinya yakin AS tidak bakal mengirimkan kekuatan militernya, yang masih banyak ditempatkan di Irak dan Afghanistan.
Rusia paham dengan kekuatan AS dan NATO saat ini, dengan perang Irak dan Afghanistan, yang menghabiskan sumber daya ekonomi dan militer sangat besar. Ditambah, krisis politik di AS menjelang pemilihan presiden November mendatang.
Dimitri Simes, Presiden Nixon Center mengatakan jika Washington menerapkan sanksi bagi Moskwa sebagai balasan terhadap Rusia, yang memiliki hak veto di Dewan Keamanan PBB, akan menolak sanksi baru bagi Iran atas program pengembangan nuklir mereka.
Simes menambahkan jika Rusia merasa orientasi pada Barat bukan pilihan yang baik maka mereka akan mencari teman lain. “Dimulai dari Teheran (Iran) dan Caracas (Venezuela),” katanya.
Sikap tegas Rusia mengerahkan kekuatan militernya ke Georgia, membalas serangan militer Georgia ke Ossetia Selatan, yang menewaskan tidak sedikit pasukan penjaga perdamaian Rusia, dinilai banyak pengamat sesuatu yang mudah diprediksi akan terjadi, setelah provokasi Barat di halaman Rusia.
Rudal
Menurut Yunanto, Rusia berkepentingan untuk tetap menjaga pengaruhnya di negara-negara pecahan Soviet. Ulah Barat dengan rencana penempatan rudal di Polandia dan Republik Cheska, serta menjadikan negara-negara di perbatasan Rusia sebagai anggota NATO, bukan sesuatu yang sepele untuk Rusia.
Rusia juga telah memperingatkan AS, terkait rencana Presiden AS George W Bush untuk menempatkan rudal di Polandia dan Republik Cheska, yang dinilai akan menjadi ancaman bagi keamanan Rusia. Moskwa telah menegaskan diteruskannya rencana itu akan memicu perlombaan senjata.
“Pemerintahan Bush berusaha sangat keras agar Georgia bergabung dengan NATO,” kata Simes. Mantan penasihat Presiden Richard Nixon itu menilai sikap Bush membuat Presiden Georgia Mikheil Saakashvili besar kepala dan mengira bisa sesukanya menyerang Ossetia.
Sejauh ini, Barat terus menyerang pengerahan militer Rusia dalam membalas serangan Georgia. Akan tetapi, mengabaikan keganjilan langkah Saakashvili dalam memutuskan penyerangan terhadap pasukan Rusia di Ossetia Selatan.
“Saakashvili mendapat semangat untuk menyerang pasukan Rusia di Ossetia, tapi jelas dia tidak pernah diberitahu, jika kau melakukannya maka tanggung sendiri akibatnya,” kata Simes. Hal senada dikatakan Charles Kupchan, profesor bidang hubungan internasional di Universitas Georgetown.
Penulis buku Akhir dari Era Amerika, yang juga menjabat Direktur Studi Eropa di Dewan Hubungan Internasional AS itu menilai, kedekatan dengan pemerintahan Bush telah membuat Saakashvildi salah perhitungan.
“Saya kira Saakashvili menjadi terlalu dekat dengan AS dan AS terlalu dekat dengan Saakashvili. Itu membuatnya berpikir berlebihan. Membuat dia merasa Barat akan datang membantu jika dia terjebak dalam masalah,” ujar Kupchan.
Ossetia Selatan telah terlibat perang sejak 1991, dalam upaya memerdekakan diri dari Georgia, setelah runtuhnya Uni Soviet. Sejak itu, Ossetia menjalankan sendiri pemerintahan dan mendeklarasikan kemerdekaannya sekalipun belum mendapat pengakuan dari negara mana pun.
Di antara masyarakat di Georgia dan Ossetia Selatan terdapat perbedaan etnis, di mana masyarakat Ossetia merupakan salah satu etnis yang berasal dari Rusia, sama dengan masyarakat di Ossetia Utara, negara republik otonom di bawah Federasi Rusia. Etnis Georgia di Ossetia Selatan menjadi minoritas, dengan kurang dari sepertiga total populasi.
Kupchan mengatakan pengakuan Moskwa atas Ossetia Selatan dan Abkhazia merupakan balasan atas tindakan AS mengakui kemerdekaan Kosovo dari Serbia dan mengabaikan keberatan Rusia. Presiden Rusia Dmitry Medvedev dalam pernyataannya juga mengingat pengakuan Barat atas Kosovo.
Medvedev, Rabu (27/8), menegaskan dalam hubungan internasional tidak boleh ada penerapan peraturan yang berbeda bagi satu negara dengan negara lainnya. Pengakuan Rusia atas kemerdekaan Ossetia Selatan dan Abkhazia, dibuat berdasarkan hukum internasional dan preseden yang terjadi.
Simes mengatakan Washington dan Moskwa bisa mengikuti formula Kosovo sebagai solusi atas status Ossetia Selatan dan Abkhazia, dengan penarikan pasukan Rusia dari wilayah Georgia lainnya. Menurut Soedjati, selama ini peraturan internasional memang kerap diimplementasikan sesuai kehendak negara maju.
Sedangkan, Yunanto menjelaskan, ketegangan akan berakhir dengan solusi yang menguntungkan Barat serta Rusia. Baik Barat, maupun Rusia tidak akan gegabah memulai perang terbuka. Apalagi, langkah yang dilakukan Barat tidak akan lepas dari pertimbangan kepentingan, nilai Georgia bagi Barat. [sp]


3 komentar untuk “Rusia - NATO Tidak Akan Perang”
Menurut banyak pengamat militer, disebutkan bahwa militer Russia masih dibawah militer USA dan NATO, itu adalah kesalahan besar. memang dalam perang antara arab dan israel terutama dalam perang enam hari dan perang yom kippur, israel yang menggunakan senjata buatan USA dan Perancis(NATO) bisa mengalahkan negara-negara arab yang menggunakan senjata buatan Uni Soviet, tetapi kemenangan Israel, tidak ditentukan oleh faktor senjata saja, Israel menerapkan srategi perang modern dan mempunyai Inteligen serta Tentara yang disiplin, berbeda dengan Arab yang masih menggunakan doktrin perang konvensional juga tentara yang tidak terampil(para perwira arab ditentukan lewat kekerabatan bukan profesionalitas/Militer yang KKN).
Kita bisa lihat Perang Vietnam, Vietnam Utara atau Vietcong mampu mengalahkan Vietnam selatan dan mengusir Perancis,Amerika,Australia,New Zealand,Korea selatan DLL, dengan menggunakan senjata kelas dua buatan Uni Soviet. Padahal saat itu Amerika mengerahkan semua kekuatanya kecuali nuklir
Dalam dalam konflik Georgia, Russia dengan mudah mampu mengusir pasukan georgia dari ossetia selatan dan abkhazia bahkan pasukan russia merangsek masuk ke sebagian besar wilayah georgia dan kalau mau, Russia mampu menghancurkan seluruh kekuatan militer georgia. Padahal saat itu, Militer georgia sudah dilatih keras dan dipersenjatai oleh Amerika dan Israel. ini terbukti dengan ditemukannya banyak senjata buatan amerika dan Perlengkapan militer buatan Israel yang berhasil disita oleh tentara russia.
Amerika,israel dan georgia mengalami kekalahan telak melawan Russia dan mereka, dengan sangat bodohnya telah membangunkan Raksasa yang sedang tidur. Saat ini Russia telah kembali memiliki rasa percaya diri yang luar biasa, dan tinggal menunggu waktu bagi mereka untuk beraksi, menggegam Dunia. Eropa dan NATO pasti berpikir jika harus perang terbuka dengan russia karena sebagian besar negara eropa bergantung pada pasokan energi dari russia.
Sebenarnya saat ini telah lahir sebuah embrio gabungan pakta militer baru yang sangat berbahaya bagi perdamaian dunia yaitu SANGHAI SIX yang dikomandani oleh Rusia dan Tiongkok. Kekuatan militer pakta Sanghai six dijamin pasti mampu mengalahkan Amerika dan eropa juga Australia, Dan itu berarti, mereka pasti akan berkuasa dan menguasai dunia.
Dalam Al-Quran, Russia dan Tiogkok disebut bangsa Ya juj dan MA juj dan mereka akan menguasai dunia dengan kejam dan tidak mengenal batas kemanusiaan dengan berbuat kerusakan yang luar biasa bagi musuh-musuh mereka. Dalam Al-Quran disebutkan mereka datang menyerbu dari tempat-tempat yang tinggi(pegunungan).
Dalam Taurot, terutama kitab Yehezkiel(38). Russia dan Tiongkok disebut sebagai bangsa Gog yang berkuasa di tanah Magog yang negerinya disebut negeri Rush (Mesekh) dan Tubal yang terletak di tempat yang tinggi disebelah utara.
di Taurot dijelaskan dengan lebih terperinci, bahwa bangsa Gog adalah Rusia, Tiongkok dan Mongolia yang akan berkuasa den menguasai dunia dengan kejam.
Sekarang saja kita bisa dengan mudah menganalisa kekuatan SANGHAI SIX baik secara ekonomi maupun militer. Hampir dipastikan bahwa tidak ada satupun negara di dunia ini yang tidak menggunakan Produk Made in China dan senjata made by Russia. beberapa anggota NATO bahkan mempunyai skadron kelas MIG dan Sukhoi serta mengoleksi senapan serbu jenis Kalasnikov untuk infanteri mereka.
Tiongkok juga tidak mau ketinggalan. secara rahasia mereka mengirimkan senjata buatan China yang dijual dengan harga murah ke wilayah konflik untuk dilihat efektifitasnya dalam uji tempur lapangan. Anda bisa lihat dalam perang 34 hari antara Hisbulloh melawan israel. pejuang hisbulloh dilatih intensip oleh pasukan komando china menggunakan senjata buatan china dan kiriman iran, hasilnya luar biasa, hisbulloh mampu melawan pasukan darat israel dan menimbulkan kerugian yang besar bagi israel(70-100 tank merkava hancur). padahal pasukan darat israel adalah yang terbaik di jazirah arab.
Kebangkitan Russia dan china tinggal menunggu waktu. Indonesia harus waspada, dan pintar memainkan peran, kita harus memanfaatkan mereka sebagai mitra strategis daripada hancur tiada berguna alias mati konyol. INDONESIA adalah negara berdaulat dan kedaulatan Indonesia adalah MUTLAK. indonesia bukan pagar bagi australia. Biarkan kekuatan Utara(sanghai six) meluncur ke selatan bagi australia, bukan untuk indonesia karena indonesia bukan palang pintu bagi australia apalagi setelah kasus pengkhiatan timor leste yang dimotori oleh australia. Jangan pernah percaya pengamat militer barat, mereka sesat dan menyesatkan.
BANGKITLAH, BANGSAKU, INDONESIA RAYA.
Oleh lukas mulyono pada Oct 7, 2008
dalam melihat peta politik dunia saat ini, kami rasa kita perlu berpijak bahwa kita sekarang berada di penghujung tahun 2008 yang diwarnai kemunculan resesi keuangan dunia, yang dimulai dari AS. sebagai efek domino dari krisis tersebut, setiap negara besar saat ini tentu lebih memilih pendekatan ’simbiosis mutualisme’ daripada memaksakan hegemoninya masing2 dengan cara ekstrim. nah, kita lihat saja bagaimana perkembangan selanjutnya dari krisis keuangan ini. untuk indonesia sendiri, hal yang paling perlu ditekankan adalah memperbesar pemasukan keuangan ke kas negara bukan ke kantong2 pribadi atau parpol tertentu. ini harus dimulai dari pengetatan terhadap setiap departemen dalam menyetor hasil masukan ke kas negara, kalau perlu dibikin sistem sepeti perusahaan,. di mana jika ada satu instansi yang dinyatakan tidak efektif dalam pemasukannya terhadap kasa negara maka sebaiknya staf di tempat tersebut dikurangi saja.
Oleh halim pada Oct 9, 2008
Untuk mengantisapasi krisis keuangan global yang melanda AS dan “Dunia”. Seharusnya Indonesia perlu belajar pada Rusia dan China.
Saat ini, Indonesia menerapkan system ekonomi kapitalis yang berporos pada amerika dan eropa, padahal system ekonomi kapitalis tidak cocok bagi indonesia yang masih bertarap negara berkembang,
INDONESIA HARUS MELAKUKAN “REVOLUSI” SEGALA BIDANG SECARA TERUKUR DAN TERKENDALI. Dan kembali pada system ekonomi Pancasila.
Indonesia harus kembali memiliki BUMN STRATEGIS yang kuat dan efisien serta memberikan keuntungan bagi negara dan rakyat.
BIDANG EKONOMI yang menguasai hajat hidup orang banyak, harus dimiliki dan diatur oleh negara demi kemakmuran rakyat.
Negara harus memastikan setiap wilayah indonesia tercukupi kebutuhan hidup dan terjamin keselatannya secara adil.
Negara harus memberikan pendidikan dasar 9 tahun GRATIS bagi setiap warga negara dan di seluruh wilayah indonesia. Pendidikan itu harus mencangkup ilmu pengetahuan dan ketrampilan serta Rasa cinta tanah air + nasionalisme + patriotisme serta ilmi berdagang + bisnis + kewirausahaan.
Negara harus selalu berpikir untuk memenuhi kebutuhan rakyat secara mandiri disegala bidang. Batasi impor dan jangan terlalu bergantung pada dunia luar (Amerika atau Rusia, sama saja)
untuk skala mikro, negara harus menjalankan sistem ekonomi kerakyatan yang berbasia pada Koperasi. Batasi sifat konsumerisme masyatakat pada produk asing.
kalau bisa disetiap distrik, harus ada koperasi yang mandiri dan dapat memenuhi kebutuhan hidup rakyat disekitarnya, karena keuntungan koperasi akan kembali ke masyarakat itu sendiri.
Negara harus menjamin kesempatan berusaha yang adil bagi seluruh rakyat indonesia dan harus tegas dalam hukum.
Oleh lukas mulyono pada Oct 9, 2008