Pasang iklan banner di O! News hanya Rp. 1.000 per klik
Cari Tahu Arti Nama Anda:

Tragedi Video Porno Siswi SMP

Kirim ke Teman Anda Kirim ke Teman Anda | 25 March 2008 – 15:43

Di balik tersebarnya video porno seorang kades dengan pelajar SMP, terkuak sebuah kemelut rumah tangga. Ternyata, sang ibu punya andil besar ikut menjerumuskan anak gadisnya. Inilah kisahnya.

Wajah cantik Ling (15) masih tampak pucat saat ditemui di rumahnya yang sederhana di Desa Kurung, Klaten, Jawa Tengah, minggu lalu. Pelajar SMP kelas 3 ini tampak masih menyimpan luka. Betapa tidak, adegan hubungan mesranya dengan kades setempat, Sumantri Irianto (43) beredar luas di masyarakat lewat kamera ponsel. Tragisnya lagi, hubungan itu terjadi atas desakan sang ibu, Sri Surani (36).

Kisah muram ini mulai terjadi 10 November 2006 silam sekitar jam 09.00. Kala itu, Ling diajak ibunya ke suatu tempat. “Ibu tidak mengatakan mau ke mana. Di dalam bus, barulah ibu mengatakan hidup saya akan dicukupi oleh seseorang, termasuk biaya sekolah. Saya harus menuruti apa saja yang diinginkan orang itu. Saya diam saja karena takut,” ujar Ling kepada penasihat hukumnya, Prapto Wibowo, SH dan Nata Dwi Nugraha Saputra, SH.

Mereka turun di sebuah perempatan. Sampai di sana sudah ada Sumantri Irianto dengan mobilnya. “Saya diajak ibu menghampiri Pak Mantri. Kami bertiga naik mobil itu. Sampai di sebuah toko di Prambanan, ibu turun. Saya diajak Pak Mantri menuju ke sebuah hotel.”

INGIN TERUSKAN SEKOLAH

Tanpa diduga Ling, di kamar hotel itu, Pak Kades mengajaknya bersebadan. Sumantri terus merayu Ling seraya mengatakan, akan mencukupi semua kebutuhan Ling, persis seperti yang dikatakan ibunya. Sebulan, ia dijanjikan akan diberi uang Rp 200 ribu. “Sepulang dari hotel, saya juga dijanjikan akan dibelikan sepeda motor. Sebenarnya saya menolak, tapi dia terus merayu,” lanjut Ling.

Ling juga terus terngiang ucapan ibunya. Terpaksa Ling menuruti keinginan Sumantri dengan hati pedih. Dari hotel, mereka kembali menjemput Sri Surani. “Kami bertiga langsung menuju ke dealer sepeda motor. Saya disuruh pelaku untuk memilih sepeda motor, dia memberi uang muka Rp 5 juta. Selanjutnya, kami langsung melanjutkan perjalanan. Sebelum saya dan ibu turun dari mobil, Pak Mantri memberi saya uang Rp 1,2 juta. Saya dan ibu pulang ke rumah, naik bus. Semua uang diminta ibu,” kata Ling seraya mengatakan, sepeda motor juga diambil ibunya.

Sampai di rumah, remaja ini menceritakan semua perbuatan Sumantri kepada ibunya. “Tapi, ibu diam saja. Dia langsung masuk kamar,” kata Ling yang juga tak berdaya ketika ibunya kembali mengajak menemui Sumantri 22 Februari 2007. Kembali ibunya merayunya, “Kamu, sudah banyak diberi oleh Pak Mantri. Jadi, kamu harus menuruti keinginan Pak Mantri.”

Adegan pertemuan pertama kembali terulang di hotel. Begitulah, hingga September 2007, total tujuh kali kejadian tak semestinya itu terjadi. Ling tidak tahu, ternyata Sumantri merekam adegan mesra mereka dengan kamera ponselnya. Tahu-tahu, Februari 2008 lalu, ia mendengar kabar, ternyata rekaman itu beredar luas ke masyarakat. Ia mengaku sangat terpukul. Hampir sebulan ia tidak berani sekolah.
“Tapi sekarang, saya sudah sekolah lagi. Teman-teman dan guru, masih menerima saya dengan baik. Saya masih ingin meneruskan sekolah. Saya kan, mesti menghadapi ujian. Mudah-mudahan saya bisa lulus dan diterima di SMA,” ujarnya lirih.

HILANG TANPA PESAN

Kabar buruk yang menimpa Ling, membuat ayahnya, Kadimin (40), terpukul. “Sama sekali saya tidak menduga, istri saya tega menjerumuskan anak sendiri. Dia telah merusak Ling. Sungguh selama ini saya tidak tahu-menahu nasib buruk yang menimpa Ling. Saya hanya heran, sudah setahun ini, Ling sering sakit-sakitan. Sering pula ia mengeluh dadanya sesak. Mungkin selama ini, Ling mesti memendam perasaannya.”
Pria yang bekerja sebagai tukang kayu ini kaget ketika mendengar kabar santer, rekaman adegan porno anaknya dengan Sumantri beredar di masyarakat. Apalagi, saat ia dipanggil untuk menemui kadesnya. “Seorang utusan Pak Mantri menemui saya. Saya diminta menemui kades. Saat bertemu, Pak Mantri bilang, ada desas-desus soal gambarnya dan anak saya yang beredar. Saya diminta tidak terlalu memikirkan hal itu karena semuanya hanya rekayasa.”

Kadimin tambah penasaran. Ia bertanya kepada warga lain. Ia tambah syok karena mendengar, ternyata bukan sekadar gambar, tapi serupa film. Ia ingin melihat film itu untuk memastikan kebenarannya. Ternyata, untuk mencarinya tidak gampang. Sumantri merazia HP warga. Kalau ada rekaman gambar filmnya, Sumantri langsung memecahkan HP itu. Masyarakat tidak berani melawan.

Lewat bantuan “Kapten” Sudadi, tokoh masyarakat setempat, Kadimin dapat menyaksikan rekaman adegan film itu. “Sebenarnya, Pak Sudadi sudah minta saya menata perasaan sebelum melihat gambar itu. Tapi, melihat gambarnya, saya tidak kuat. Apalagi, mendengar suara rintihan anak saya. Hati saya sakit. Saya tidak terima,” ujar bapak dua anak ini.

Diantar Sudadi, Kadimin lapor ke Polres Klaten pada 26 Februari lalu. Di tengah kegundahannya, tiga hari kemudian, Jumat (29/2), Ling menghilang dari rumah tanpa pesan apa pun. “Saya cemas gara-gara masalah ini, anak saya berbuat nekat,” kata Kadimin yang lapor ke Polsek Ceper soal hilangnya Ling.

DITINGGAL DI KLINIK

Seminggu lewat, Sumantri pesan kepada Sudadi agar Kadimin bertemu kadesnya itu. “Kata Pak Mantri, Ling sudah ditemukan di sebuah poliklinik. Dia bilang, Ling sakit. Dia bersedia meminjami uang kalau saya butuh. Saya jawab, makan saja saya tidak doyan. Kalau melihat duit, saya malah mau muntah,” tutur Kadimin yang menduga, Sumantri tahu persis soal kepergian anaknya.

Di tengah hujan deras, Kadimin ditemani Sudadi, menuju poliklinik. Ternyata, di sana Ling hanya sendirian. Melihat sang ayah datang, Ling hanya menangis. Ling bercerita, seminggu ini ia diajak ibunya pindah dari satu rumah ke rumah lain. Terakhir, ia ditinggal di klinik.

Selanjutnya, setelah kondisi Ling membaik, Kadimin mengantarkan anaknya lapor polisi. Berkat pendekatan kemanusiaan anggota Polres Klaten, Ling akhirnya bersedia menceritakan semua deritanya.

Kadimin sedikit lega ketika Sumantri dan Sri Surani akhirnya diciduk polisi. “Saya tak peduli, siapa pun yang merusak anak saya, harus diproses hukum, termasuk istri saya,” kata Kadimin yang mengaku rumah tangganya dipenuhi kerikil tajam. “Istri saya selalu melihat ke atas. Semua ini sudah terjadi ketika Ling masuk TK. Ia ingin bergaya hidup mewah, sementara saya tidak sanggup memenuhi keinginannya.”

Sri Surani sempat minta izin untuk bekerja. Sayangnya, “Ia tidak terus terang kerja apa. Katanya, hanya kerja di salon. Saya tidak peduli lagi, soalnya dia juga tidak mau ngurus rumah tangga. Sejak itu, dia jarang pulang. Saya jadi orangtua tunggal. Sayalah yang memandikan, menyuapi, mengantar, dan menjemput anak sekolah,” kata bapak dua anak ini.

Sebenarnya, Kadimin sudah ingin menceraikan istrinya. Namun, ia tetap ingin mempertahankan rumah tangga demi anak-anaknya. Sampai akhirnya, November lalu, ia mendapat kabar dari para pemuda desa, istrinya sering menginap di rumah seorang pria yang istrinya kerja di Papua. Kadimin sempat ke rumah pria itu disertai warga setempat. Ternyata benar, ia menangkap basah istrinya telah melakukan perselingkuhan.

Pria bertubuh kurus ini ternyata masih panjang sabar. Ia masih mau menerima istrinya, asalkan Sri mau jadi ibu yang baik. “Istri saya membuat surat perjanjian disaksikan warga desa, ia bersedia saya cerai, bila mengulangi perbuatannya. Ternyata, belakangan ketahuan, ia berbuat lebih nista karena tega menjerumuskan anak sendiri,” ujar Kadimin.

Kini, Kadimin berniat menutup buku perjalanan rumah tangganya yang penuh gelombang itu. Ia ingin konsentrasi, hanya menemani anak-anaknya.

“MAKSIMAL 15 TAHUN”

Kasatreskrim Polres Klaten AKP Agus Darojat , SIK saat ditemui Rabu (19/3) mengatakan segera menindaklanjuti laporan Kadimin. Pihaknya mengaku sudah menahan Sumantri dan Sri Surani. Keduanya disangka telah melanggar pasal 81 ayat 2 tentang Perlindungan Anak. “Ancaman hukuman, minimal 3 tahun dan maksimal 15 tahun. Dari hasil pemeriksaan, kedua tersangka mengakui perbuatannya. Meski Sumantri mengaku perbuatannya atas dasar suka sama suka, unsur-unsur sebagaimana pasal 81 itu sudah terpenuhi,” kata Agus.

Agus masih konsentrasi ke pengusutan dua tersangka. Namun, ia juga akan mengembangkan kasus ini, antara lain siapa yang mengedarkan video porno itu. Adegan tak senonoh ini beredar setelah HP Sumantri rusak. Lalu, HP ini dibawa ke sebuah counter untuk diperbaiki. “Kemungkinan, dari sinilah peredarannya. Kami masih akan mendalami kasus ini,” lanjutnya.

Sayang, Agus tidak memperkenankan NOVA menemui kedua tersangka. Yang pasti, dari pengakuan kepada petugas, “Sri membujuk anaknya, demi mendapat imbalan. Motifnya karena alasan ekonomi.”

Sementara itu, Prapto Wibowo, SH, berjanji akan mengawal kasus ini sampai persidangan kelak. Dalam waktu dekat, pihaknya juga akan memeriksakan kondisi kejiwaan Ling ke psikolog. [nova]

  1. 16 komentar untuk “Tragedi Video Porno Siswi SMP”

  2. kasih ibu sepanjang jalan buntu kasih anak sepanjang galah bantu. dasar ibu matre

    Oleh petermanek pada May 22, 2008

  3. ibu dan kades bangsat

    Oleh arif pada Jul 2, 2008

  4. itu lah akibat sex bebas. dan pergaulan salah arah.

    kalo udah gitu siapa yang rugi.

    tanya kan kenapa ?

    Oleh medan Gaya pada Aug 6, 2008

  5. wa indonesia makin parah kapan pak harto hidup lagi

    Oleh zhatiey pada Aug 14, 2008

  6. Tega bangeeet tuh si ibu.

    Ternyata kalimat yang mengatakan bahwa tidak ada seorang ibu manapun di dunia yang mau melihat anaknya menderita, tidak selamanya benar.
    Kades yang seharusnya jadi panutan malah berbuat hal yang tidak pantas.

    Hukuman 15 thn tidak setimpal jika dibandingkan dengan derita dan malu seumur hidup yang ditanggung sang anak. Semoga dia diberi kesabaran.

    SUNGGUH IRONIS
    Walaupun Hal Ini Sudah Seering Terjadi di Indonesia

    Oleh cinma pada Sep 4, 2008

  7. lebih ketat lagi mengenai masalah pornografi baik di media elektronik dan dll

    Oleh adew pada Sep 8, 2008

  8. Dasar orang yang tak kuat Iman..hanya mengandalkan si amin kali….

    Oleh Ikbal pada Sep 11, 2008

  9. Saya udh liat video’y rasa’y pgen gue hajar aj sumantri bangsat it..mana c anak msh kecil lg..anjing emg nyokap’y ma sumantri tuh..udah tua jelek..muka bopeng cabul..gue pgn bgt ketemu trs gue ludahin..gue mau neh nikahin anak’y biar g jd aib..tp gue kudu lu2s kuliah dlu..hehe..anjing sumantri n ibu’y ! Hukum pancung aj..

    Oleh LenDra pada Sep 14, 2008

  10. mana linknya juragan ???? :p

    Oleh gak jels pada Oct 7, 2008

  11. kenapa kamu melakukan hal seperti itu, itu akibat kamu pergaulan yang belum kamu lakukan semestinya??

    Oleh doni pada Oct 28, 2008

  12. Gak usah munafik deh, elo paling juga kalo dikasih paha mulus juga mau. Alah sok suci lo !

    Oleh Mozeq pada Nov 15, 2008

  13. kliatanya orang tu nyokap….
    ternyata iblis…
    iblis aja ga mau jual anaknya…
    apa ya disebutnya nyokap tu?????

    Oleh ian pada Nov 26, 2008

  14. nama G RIA, u can call me ‘ia, G butuh kepuasan & duit,,,s0 siapa aja dr lw yg bisa kasih G kepuasan & duit,,,just call me 02198830613,,,u can see ma’ pcture on ma’ FS mOi gEntiLLe,,,G bisa service lw di kamar kos G,,anak muda atau om2 juga boleh, yang penting harus bayar G,,,pelanggan G rata2 om2 yang kerja di daaerah benhil & sudirman,,,call G oKzz
    RIA 02198830613

    Oleh RIA pada Nov 27, 2008

  15. kalu soal anak dijual hingga sering banyak terjadi maka jangan dikasih ampun biarlah hukum yang mengadilinya namun tega benar

    Oleh arya pada Dec 7, 2008

  16. senua itu harus di berantas mohon kpd para polisi
    untuk memberantasnya

    Oleh suhaimi pada Dec 12, 2008

  17. menurut saya sexy itu enak

    Oleh steven pada Jan 6, 2009

Kirim Komentar